Wayang Cirebon di Mata Internasional

Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PCNU kabupaten Cirebon menggelar diskusi bertema “Wayang Cirebon di Mata Dunia Internasional”, di Saung Perjuangan, Cirebon (21/7). Narasumber diskusi ini ialah Prof. Matthew Isaac Cohen, guru besar di Royal Holloway, University of London, dan dipandu oleh budayawan Cirebon sekaligus Dewan Pakar Lesbumi PCNU kabupaten Cirebon, Dr. Opan S. Hasyim.

Diskusi yang digagas oleh Doddie Yulianto (Majelis Budaya LESBUMI PCNU kab. Cirebon) ini memotret perkembangan Wayang Cirebon dari perspektif Dalang Mancanegara. Matthew menceritakan pengalamannya dalam mementaskan wayang. Pria yang pernah mementaskan wayang di negara-negara Eropa hingga Iran ini mengaku, ia mendapatkan apresiasi dan sambutan yang baik dari warga luar negeri terhadap wayang.

Sebagai seorang akademisi, ia pernah diminta turut melakukan kurasi atas Koleksi wayang Yale University, AS, yang merupakan hibah dari Walter Angst. Koleksi itu berjumlah 150 kotak dengan wayang sebanyak 21.000. Tiga kotak di antaranya berasal dari Gegesik, Cirebon, dan merupakan wayang yang pernah ia mainkan ketika masih belajar wayang Cirebon di Gegesik.

Profesor berkebangsaan Amerika ini mengatakan, mementaskan wayang adalah tentang mengantarkan cerita yang bermakna. Improvisasi kerap diperlukan agar penonton, lebih-lebih bagi penonton pemula dan asing, mampu menangkap pesan apa yang disampaikan dalam pementasan wayang. Oleh sebab itu, di Skotlandia, misalnya, ia pernah mementaskan wayang yang memadukan kisah pewayangan dengan mitos lokal Skotlandia.

Menjawab pertanyaan salah seorang peserta diskusi mengenai kemungkinan memadukan wayang dengan musik modern, Matthew menceritakan saat ia berkolaborasi dengan mahasiswanya di University of London. Kolaborasi itu memadukan pementasan wayang dengan instrumen-instrumen modern seperti piano, bass dan flote.

Lain lagi dengan Dalang Purjadi yang turut hadir di acara itu. Pria yang menjabat sebagai Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) kabupaten Cirebon itu mengatakan, wayang dan gamelan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Wayang tidak boleh mengalah kepada selera zaman. Sebaliknya, anak zaman harus belajar mencintai wayang seutuhnya dalam rangka pelestarian wayang.

Baca juga 》  Wayang, Warisan Budaya Nusantara Era Kapitayan dan Islam

Ia lalu berpesan kepada forum, bahwa melestarikan wayang tidak cukup dengan menciptakan dalang, akan tetapi juga harus mampu menciptakan penonton. Misalnya, bisa dimulai dengan memperdengarkan gamelan kepada siswa-siswa sejak dini. Stimulus audio itu diharapkan mampu membangun kecintaan generasi muda terhadap pementasan wayang.

Tren wayang sendiri menurut Matthew sangat dinamis. Format-format pementasan wayang berkembang seiring zaman, akan tetapi wayang tradisional tetap perlu dilestarikan.

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top