Uyghur di Xinjiang dalam telaah Emic

K Ng H. Agus Sunyoto

Usai ikut aksi demo Bela Muslim Uyghur di Kedubes Cina di Jakarta, Kampret, Kacung, Kepiting, dan Rajungan menghadap Guru Sufi yg sedang duduk berbincang dengan Sufi Kenthir dan Sufi Koplak di Langgar. Setelah menceritakan kehebatan aksinya, Kampret minta penilaian Guru Sufi tentang aksinya yang heroik membela Muslim. Uyghur.

Alih-alih dipuji, Kampret dan kawan-kawannya justru diketawai Guru Sufi, Sufi Kenthir dan Sufi Koplak. Merasa diremehkan, Kampret protes. Ia tidak suka para Sufi tidak menunjukkan kepedulian terhadap nasib Muslim Uyghur yg dizhalimi Rezim Kafir Komunis Cina.

“Kenapa Mbah Yai tidak perduli kepada rakyat Uyghur? Apa salah mereka ingin merdeka? Apakah karena mereka muslim tidak boleh merdeka,” sergah Kampret tidak terima.

“Sebentar Prett, jangan ngamuk -ngamuk dulu,” kata Guru Sufi sabar, “Aku mau tanya dulu tentang Xinjiang dan Uyghur sebelum tentukan sikap. Ini penting. Jawab yang jujur!”

“Tanya soal apa Mbah Yai?” tanya Kampret tegas

“Xinjiang itu wilayah di negeri mana?” tanya Guru Sufi

“Ya nama wilayah di Tiongkok, Mbah Yai,” sahut Kampret.

“Sejak kapan daerah itu bernama Xinjiang?”

“Gak tahu Mbah Yai,”

“Kamu tahu tidak sejak Tiongkok dipimpin Kaisar Shi Huang Tie yg bertahta tahun 135 – 100 SM wilayah itu sudah bernama Xinjiang?” tukas Guru Sufi dengan nada tanya.

“Belum tahu, Mbah Yai.”

“Kamu tahu tidak kalau Uyghur itu suku Turki?”

“Tahu, Mbah Yai. Turki Muslim.”

“Kamu yakin Uyghur itu asli penduduk Xinjiang?”

“Tidak Mbah Yai.”

“Mulai kapan Uyghur tinggal di Xinjiang?”

“Tidak tahu, Mbah Yai. Mungkin jaman Turki Ustman.”

“Berarti Uyghur itu orang asing asal Turki yg tinggal di Xinjiang, tanah milik Bangsa Cina. Benar begitu?” tanya Guru Sufi mendesak.

Baca juga 》  Gen Z, Tentara Misterius Pembela NU

Kampret gelagapan. Agak bingung ia memandang Kacung, Kepiting dan Rajungan bergantian. Setelah itu, ia menuduk.

Saat Kampret akan bicara, Guru Sufi berkata,”Kamu tahu tidak di Kalimantan Barat itu banyak sekali penduduk dari etnis Cina? Ada orang Hokkien ada orang Hakka. Bagaimana menurutmu jika orang-orang Cina di sana mendirikan Republik Demokrasi Cina Selatan?”

“Wah ya perang Mbah Yai.”

“Bangsa Cina, pikirannya sama dengan pikiranmu saat mereka menghadapi kasus Uyghur!”

“Tapi Mbah Yai, Uyghur itu muslim.”

“O ya?” sahut Guru Sufi, “Menurutmu muslim itu boleh melakukan apa saja kepada orang lain yang bukan muslim, begitukah?”

“Lho iya toh Mbah Yai. Orang kafir itu kan halal segalanya! Hartanya, tanahnya, darahnya, bahkan nyawanya halal semua dirampas oleh orang beriman.”

Guru Sufi terpaku diam sambil membayangkan logika yg digunakan Kampret, logika yang sama dan sebangun dengan logika berpikir golongan Khawarij, Badui Gurun Nejd, ISIS, dan terrorist peliharaan Dajjal Globalist. Betapa naif dan bahaya logika itu sebab seseorang yang jahat cukup ikrar Syahadat di depan publik terus sholat jamaah yg disaksikan orang banyak sebagai muslim, maka orang jahat tersebut sudah sah untuk merampas, menjarah, menyiksa, membunuh orang non muslim semau-maunya. Sungguh, lslam dan umat lslam akan menjadi Common Enemy bangsa-bangsa di dunia.

Setelah diam sebentar, Guru Sufi berkata, “Kalau itu keyakinan agamamu, Prett, di ujung kampung ini di pinggir jalan besar sana ada rumah Cik Cui, janda kaya non muslim yg kekayaannya tidak terhitung. Rampok dia! Bunuh dia! Ambil hartanya! Tak tunggu keberanianmu mewujudkan prinsip ajaran agamamu!”

“Wah kalau itu tindak kriminal mbah Yai.”

Sufi Kenthir yang tekun menyimak tiba-tiba bangkit berdiri. Lalu dengan terkaman keras ia menarik krah baju Kampret ke atas dan melempar Kampret ke luar langgar sambil menghardik, “Kampret, Kecebong, Kecoak, Kremi tidak pernah bisa mengikuti pikiran manusia. Kembali kau ke kawananmu di tengah gurun pasir sana!”

Baca juga 》  Jamaah Nahdliyin Tidak Pernah Dijajah Kolonialis Belanda

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top