Teguhkan Tradisi, Tokoh Lesbumi Pamerkan Pusaka dalam Rakornas 3 Lesbumi NU

Lesbumi.id – Selain karya maestro nusantara seperti lukisan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), KH. Zawawi Imron, Jony Ramlan, Wahyu Nugroho dan KH. Ng. Agus Sunyoto serta beberapa perupa lainnya yang dipamerkan di Pameran Seni Rupa, beberapa tokoh Lesbumi pun memerkan koleksi pribadinya di pameran pusaka, khususnya keris, pada Rakornas 3 Lesbumi NU (3-5/7) di Taman Candrs Wilwatikta Pandaan, Pasuruan. Tokoh-tokoh Lesbumi tersebut diantaranya ada Mpu Fanani (Lesbumi PC Kab. Malang), KH. Imam Mubarok (Lesbumi PW Jawa Timur), juga Romo Donny (Lesbumi PBNU).

“Fungsi adanya pameran ini adalah untuk mengingatkan kembali dan meneguhkan sejarah. Bahwa kita ini adalah bukan bangsa yang lahir kemarin sore, melainkan kita adalah bangsa yang sudah berdiri ribuan tahun dengan segala dinamikanya. Sehingga pesan Bung Karno, ‘Jas Merah’ Jangan sekali kali lupa sejarah sangat relevan hingga saat ini.” Tegas Romo Donny yang hadir membawa 3 koleksi pusaka kerisnya.

Lebih lanjut, Romo Donny menuturkan bahwa NU tidak boleh lupa sejarah Karena salah satunya, adanya simbol Wali Songo yang ditunjukkan dengan bintang sembilan yang telah menyebarkan ajaran agama islam di Nusantara.

“Bahwa NU itu sanadnya lurus, sanad ke Kanjeng Nabi lurus, sanad keilmuannya pun juga lurus, secara nasab keturunan pun demikian. Jadi tidak ada ceritanya bahwa bangsa ini bisa lupakan sejarah, sebab berdirinya bangsa ini pun salah satunya juga andil dari NU, seperti sering dibahas oleh KH. Agus Sunyoto dalam Fatwa Resolusi Resolusi Jihad.” Imbuhnya

Hal ini menjadi sangat penting terutama di era globalisasi yang sebetulnya juga rumit, menurutnya. Globalisasi pertama dimulai ketika orang barat tahu bahwa bumi ternyata tidak datar seperti yang dipelajari. Setelah mengetahui bahwa bumi itu bulat akhirnya mereka mulai mengembara kemana-mana, ke seluruh penjuru dunia tapi masih menggunakan kapal layar, yang memanfaatkan arah angin. Kemudian berkembang lagi ditemukannya mesin uap sehingga tidak lagi menunggu angin untuk berlayar ke negeri-negeri di dunia. Setelah mesin uap ditemukan pun akhirnya perkembangan dalam mengarungi dunia berubah ke arah yang kebih maju, dengan dibukanya beberapa terusan akhirnya untuk menuju ke afrika dari eropa menjadi lebih cepat.

Baca juga 》  Apresiasi Positif Pameran Seni Rupa Rakornas 3 Lesbumi NU

Selanjutnya globalisasi yang muncul adalah era telekomunikasi. Termasuk munculnya telepon dan akhirnya berkembang munculnyan internet. Romo Donny pun menuturkan kita sebagai pemilik sejarah harusnya mampu memaksimalkan era globalisasi ini, bukan malah tergerus globalisasi. Hal inilah kiranya semangat Rakornas 3 Lesbumi mengangkat tajuk Meneguhkan Islam Nusantara di Era Milenial.

“Yang tujuan utamanya tidak lain untuk meneguhkan identitas kita sebagai bangsa. Bagaimana kita seharusnya mampu memanfaatkan globalisasi untuk tetap eksis dan memegang teguh tradisi.” Tegasnya.

Ketika semua informasi bebas diunduh lewat internet sebagai globalisasi termodern maka kita harus meluangkan konten di (media: red) globalisasi itu. Agar generasi saat ini tahu bahwa kita punya anugerah tuhan yang sangat besar sebagai bangsa. Dengan itu maka kita tidak akan lupa. Karena jika sampai lupa, maka kita sebagai pohon akan kering. Sebab logika akar menunjukkan bahwa jika pohon lupa pada akar, maka pohon itu tidak dapat nutrisi. Ketika akar tidak kuat mendapat cobaan maka pohon itu akan tumbang. Sehingga pohon yang tumbuh makin menjulang maka akarnya pun (harus) makin kuat. Sehingga akar dalam hal ini tradisi budaya bangsa ini harus kita lestarikan untuk meneguhkan kita sebagai bangsa. Begitu juga logika panah yang diungkapkan Kahlil Gibran, dimana anak panah yang ingin melesat jauh ke depan maka harus ditarik kuat ke belakang.

“Tan Hana Nguni Tan Hana Manke,” tuturnya.

Jadi kalau ingin menjadi bangsa yang besar dan kuat maka harus menguatkan akarnya, harus menarik busur panah kebelakang yang kuat pula. Sehingga meskipun saat ini eropa dianggap sebagai seni yang universal, kita tetap harus meneguhkan identitas sebagai bangsa. Dan kembali lagi pada logika pohon dan panah.

Baca juga 》  Kolaborasi Tiga Dalang, Meriahkan Rakornas 3 Lesbumi

(min/san)

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top