Tegal Menggelar Festival Sintren Luwijawa

Kegiatan FESTIVAL SINTREN LUWIJAWA sedianya akan digelar 27-28 Oktober 2018 di Desa Luwijawa, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal.

Seringkali kita tidak menyadari bahwa sesuatu yang kita miliki itu sangat berharga, sampai kita kehilangan. Itulah kondisi yang acapkali terjadi di dunia seni budaya di nusantara. Kabupaten Tegal pun mengalami situasi tersebut.

Karena itulah, maka Festival Sintren Luwijawa diselenggarakan dalam rangka melestarikan kesenian tradisional Tegal yang saat ini keberadaannya kian langka, dan makin sulit dijumpai, karena tergerus oleh perkembangan teknologi dan derasnya gelombang budaya dari luar yang masuk ke Nusantara.

Festival Sintren Luwijawa merupakan perhelatan seni budaya yang diselenggarakan secara swadaya dan mandiri oleh masyarakat dan pemerintah Desa Luwijawa bekerjasama dengan Pergerakan HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya). Kegiatan ini diselenggarakan di Desa Luwijawa, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal.

Festival budaya ini juga bertujuan sebagai launching bagi kegiatan wisata Desa Luwijawa berbasis masyarakat, yang tengah dikembangkan oleh pemerintah desa dan disupport oleh Pergerakan HIDORA serta Pemkab Tegal.

Selain kesenian Sintren, Desa Luwijawa juga memiliki beragam potensi seperti alamnya yang indah berbukit-bukit dengan sawah terasiring, hutan bambu, dan sungai. Selain itu terdapat berbagai hasil bumi seperti durian, kopi, coklat, cengkeh, mangga, apukat, merica putih, jengkol, jagung dan padi. Belum lagi di desa ini juga terdapat beberapa situs, makam tua, dan bangunan rumah-rumah kayu vernakular yang unik dan khas.

Dalam Festival Sintren Luwijawa selain menampilkan kesenian Sintren sebagai agenda utama, juga ditampilkan aneka musik dan tari tradisional, musik dan tari kontemporer, kolaborasi seniman antar bangsa, workshop wisata desa, sarasehan budaya, bazaar UMKM produk Desa Luwijawa dan desa-desa lain, serta field trip wisata Desa Luwijawa.

Selain seniman-seniman dari Desa Luwijawa dan Kecamatan Jatinegara, acara ini juga dimeriahkan oleh para seniman dan budayawan Kabupaten Tegal, seniman dari berbagai daerah di nusantara, dan beberapa seniman mancanegara, yang juga akan tampil berkolaborasi untuk memberi dukungan serta menginspirasi seniman-seniman Desa Luwijawa.

PENGISI ACARA:

Seniman Mancanegara
▪Cai Kunkun (seniman dari China)
▪Adriana (seniman dari Colombia)
▪Ivanna (seniman dari Belanda)
▪Antonia (seniman dari Polandia)
▪Roman (seniman dari Republik Ceko)
▪Johana (seniman dari Republik Ceko)
▪Veronica (seniman dari Republik Ceko)
▪Raquel (Seniman dari Jerman)
▪Danai (seniman dari Yunani)
▪Katarina (seniman dari Serbia)
▪Nina (seniman dari Italia)
▪Merel (seniman dari Belanda)
▪Levin (seniman dari Jerman)
▪Gerrit (seniman dari Jerman)

Baca juga 》  Potensi di balik Dolanan Sluku-sluku Bathok

Seniman Nusantara:
▪Ki Mujar Sangkerta (creator Wayang ▪Milehnium, wayang berbahan alumunium, dari Jogja)
▪Jojok (etnik music performance, dari Kelompok Penyanyi Jalanan Malioboro, Jogja)
▪Gedrug Java Dance Sogol cs (tari Rampak Butho, dari Jogja)
▪RR. Caca Mranggi (Deaf Dancer Indonesia, penari difabel multi talenta dari Jogja)
▪Mala Omah Guyub (pemain biola dari Jogja)
▪Ear (musisi dari Pulau Bangka)
▪Tejo Machmoed (musisi alat musik tiup dari Malang)
▪Alex Richard (musisi alat musik dawai dari Jember)

Seniman Kabupaten Tegal:
▪Yustiono Dianwiyono (pemain saxophone, pelajar SMAN 1 Balapulang, Kab. Tegal)
▪Grup Kesenian AMUBA (Alunan Musik Bambu), Desa Cempaka, Bumijawa
▪Gamelan SD Muhammadiyah Jatinegara
▪Drumband SMP Muhammadiyah Jatinegara
▪Tari Gareng SD Lembahsari
▪kesenian Sintren Desa Luwijawa
Kesenian Kuntulan anak-anak Desa Luwijawa
▪Terbang Kencer Desa Luwijawa
▪Tari Topeng Endel SD Desa Luwijawa 1 dan SD Luwijawa 2
▪Duror (rebana kontemporer) Desa Luwijawa
▪Calung SD Desa Luwijawa
▪Tari Sintren Desa Luwijawa

SARASEHAN BUDAYA

“Melestarikan Kesenian Sintren, Merawat Budaya Warisan Nusantara, Sebuah Pergerakan di Persimpangan Jalan”

Pada sarasehan budaya di dalam rangkaian kegiatan Festival Sintren Luwijawa ini, akan dikaji dan dianalisa bagaimana kondisi saat ini, dan digali strategi apa yang bisa dikerjakan untuk melestarikan kesenian sintren (dan kesenian tradisional lainnya), di tengah kondisi dan tantangan bahwa seni dan budaya tradisional kian tergerus oleh dunia entertainment modern, tersisihkan oleh sosial media dan teknologi informasi, terkesampingkan oleh arus budaya dari luar yang masuk ke nusantara, dan banyak dibenturkan dengan agama serta dikaitkan dengan bencana alam.

Selain itu bagaimana memandang seni dan budaya, khususnya kesenian sintren dalam perspektif gender kultural sebagai model pemaknaan simbol budaya, yang juga bisa dilakukan kepada produk-produk budaya lain, sebagai usaha pemanfaatan produk budaya nusantara, dalam menjawab permasalahan-permasalahan sosiokultural yang ada.

Baca juga 》  Kentrung, Dakwah Islam Lewat Dongeng

Narasumber Sarasehan Budaya:
▪Gus Eko Ahmadi, Ketua Divisi Seni dan Budaya LESBUMI PBNU (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)
▪Nisa Roiyasa, praktisi pendidikan, periset sintren dari Pergerakan HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya)
▪Ibu Katri, pelaku kesenian Sintren Desa Luwijawa
▪Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal
▪Dewan Kesenian Kabupaten Tegal

Moderator:
Bachtiar Djanan M (Pergerakan HIDORA)

(Jadwal kegiatan: Minggu, 28 Oktober 2018, mulai jam 10.0)
WORKSHOP WISATA DESA

Tema: Organisasi, Perencanaan, dan Pengelolaan Wisata Desa

Pemahaman mengenai wisata desa, bagaimana keorganisasian wisata desa, bagaimana perencanaan dan persiapan operasional wisata desa, mengembangkan ide-ide paket wisata desa, pengembangan pengetahan dan skill perencanaan paket wisata desa dan cara menghitung harga paket wisata, dan membangun sinergi antar desa dan destinasi untuk menguatkan brand wisata Kabupaten Tegal.

Pemateri : Agus Wiyono (Ketua East Java Ecotourism Forum, pemateri dalam berbagai Training, Bimtek, dan Workshop Kementerian Pariwisata RI)

Peserta adalah dari perwakilan desa-desa dan destinasi dampingan Hidora di Kabupaten Tegal, yang masing-masing mengirimkan 3 orang peserta: Desa Cempaka (Kecamatan Bumijawa), Desa Begawat (Kecamatan Bumijawa), Desa Sigedong (Kecamatan Bumijawa), Desa Luwijawa (Kecamatan Jatinegara), Desa Munjungagung (Kecamatan Kramat), Desa Pangkah (Kecamatan Pangkah), Pabrik Gula Pangka (Desa Pangkah, Kecamatan Pangkah)

Jadwal Kegiatan: Sabtu dan Minggu, 27-28 Oktober 2018

SEKILAS KESENIAN SINTREN

Kabupaten Tegal Jawa Tengah memiliki satu kesenian khas bernama Sintren Tegalan atau biasa disebut Sintren. Kesenian Sintren merupakan sebuah tarian magis untuk meminta hujan ketika musim kemarau panjang, mencegah bencana pada pertanian, atau sebagai kesenian hiburan apabila ada hajatan.

Tarian ini diperankan oleh seorang perempuan yang masih perawan, dan didukung oleh beberapa orang lain, yaitu Melandang (pawang pemanggil roh halus yang akan merasuki penari sintren), Bodor atau Badut (pelawak), dan para penabuh gambang dan kendang.

Baca juga 》  Hadrah, Seni Rebana di Indonesia

Tarian magis dimulai saat Melandang mulai melantunkan mantra pemanggil roh gaib dengan diiringi alunan musik gamelan, sambil membakar kemenyan. Kedua tangan penari sintren diikat erat di punggung, dan penari menggunakan pakaian sehari-hari serta tidak ber-make-up.

Sambil terus melantunkan matra, Melandang memasukkan penari dengan tangan terikat itu ke dalam sebuah kurungan berbalut kain. Di dalam kurungan disediakan beragam alat rias seperti bedak, gincu atau lipstik, sanggul, hiasan kepala, kebaya, kacamata, selendang, sisir, jam tangan, cermin, dan lain-lain. Pada saat itu, para pengunjung ikut melantunkan lagu pengiring.

Tak berapa lama, kurungan dibuka, dan sintren yang semula hanya berpakaian biasa kini telah beralih wujud dengan kostum penari, berkacamata hitam, berkebaya, dengan untaian melati menghias kepala, lengkap dengan riasan make-up yang cantik, dan tangannya telah bebas, tak lagi terikat.

Sintren mulai menari dalam kondisi kerasukan roh (trance) dengan terus diiringi nyanyian mantra dari pengunjung serta gambang dan kendang. Di tengah berjalannya tarian magis itu, sang bodor ikut menari melakukan lawakan berupa gerakan-gerakan lucu yang mengundang tawa pengunjung.

Dalam salah satu sesi tarian, pengunjung biasanya akan melempar pakaian yang mereka bawa untuk disemprot wewangian oleh sang sintren untuk mendapatkan berkah. Jika sudah mendapatkan pakaiannya kembali, pengunjung akan melempar uang atau melakukan saweran.

Kesenian Sintren Tegal digelar hingga tengah malam, hingga Melandang mulai menutupi sintren dengan kurungan kembali. Dalam beberapa saat, penari sintren telah kembali berganti kostum seperti semula dan tak berias sama sekali.

Kesenian Sintren kini makin langka. Dulu kesenian sintren di Tegal bisa dijumpai di berbagai desa, namun kini kesenian ini hanya tinggal tersisa di beberapa desa, seperti di Desa Luwijawa dan Desa Tamansari Kecamatan Jatinegara, serta Desa Karangmulya Kecamatan Suradadi, dan Desa Jatiwangi Kecamatan Pagerbarang.

Sementara itu, di luar Tegal kesenian sintren juga tersebar di beberapa kota lain di wilayah pesisir utara, seprti di Cirebon, Brebes, Pemalang dan Pekalongan. Tentu, tiap daerah memiliki kesamaan dan perbedaan masing-masing.

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top