Tarikat, Universalisme Keilmuan dan Persaudaraan Sedunia

Oleh: K Ng Agus Sunyoto

Statemen historis yang digaris-bawahi oleh Dr Nuchter van Oogkleppen dari materi sarasehan yang disampaikan Guru Sufi adalah tentang Tarikat sebagai pembawa universalisme keilmuan dan persaudaraan antar muslim sedunia; Sebab sejauh yang diketahui Dr Nuchter vanm Oogkleppen, tarikat-tarikat yang berkembang di Nusantara adalah tarikat yang sudah jauh dari sumber asalnya yang ditandai pemujaan kubur wali-wali, amaliah-amaliah bid’ah, fanatisme buta, bersemangat eskapis, jumud, stagnan, dan menjadi penyebab kemunduran umat Islam. Memandang tarikat sebagai pembawa universalisme keilmuan bagi Dr Nuchter van Oogkeleppen sangat bertentang dengan fakta, itu sebabnya setelah mendapat jawaban tentang eksistensi NU sebagai Jama’ah dan Jam’iyyah, Dr Nuchter van Oogkleppen langsung menyoal statemen historis Guru Sufi yang baginya sangat tidak masuk akal dan mengada-ada.

Sebagaimana Sufi Sudrun yang menggunakan pendekatan Post Hegemony untuk memperoleh pandangan emic tentang tarikat, Guru Sufi pertama-tama menjelaskan keniscayaan aturan bagi keabsahan sebuah tarikat dengan melihat silsilah pewarisan di mana sebuah tarikat baru diakui keabsahannya jika memiliki silsilah keilmuan yang tidak terputus sejak Nabi Muhammad Saw. Guru Sufi memberikan kitab kuno dari bahan kertas Delancang yang ditulis pada hari Senin Legi, tanggal 23 Rejeb 1704 / 23 Rajab 1190 H yang jika dikonversi ke kalender Masehi menjadi 17 Agustus 1778. Dr Nuchter van Oogkleppen yang pintar membaca huruf Arab pegon itu membalik-balik halaman demi halaman kitab yang kertasnya sudah berwarna coklat kusam itu.

“Silahkan dibuka halaman 77 yang berisi silsilah tarikat Syatthariyyah,” kata Guru Sufi.

Dr Nuchter van Oogkleppen membuka halaman 77 dan membaca daftar nama dalam silsilah. Setelah selesai ia memandang Guru Sufi seolah minta penjelasan kenapa ia harus membaca daftar silsilah tarikat Syatthariyyah. Guru Sufi tersenyum, kemudian bertanya,”Menurut sampeyan, apakah nama-nama yang tertera di daftar silsilah itu seperti Imam Ja’far Shadiq, Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Adam al-Busthami, Syekh Muhammad Maghrib, Qutb Maulana Rumi ath-Thusi, Qutb Abil Hasan Ali bin Abi Ja’far al-Kharaqani, Syekh Hud Qaliyyu Marawan Nahar, Syekh Abdullah Asy-Syattar, Syekh Hidayatullah Saramat adalah orang Indonesia?” tanya Guru Sufi.

Baca juga 》  Kebudayaan Pesantren dan Fungsi Politisnya

“Tentu tidak Pak Kyai,” sahut Dr Nuchter van Oogkleppen, ”Mereka itu ada yang orang asal negeri Arabia, Persia, Maroko, Turki, Turkestan, Afghanistan, India..”

“Sampeyan bisa faham tidak bahwa proses pewarisan ilmu tasawuf itu berjalan secara estafet dari waktu ke waktu dan dari satu negeri ke negeri yang lain secara berangkai dan berurutan tidak terputus?” tanya Guru Sufi.

“Alur logikanya memang seperti itu,” sahut Dr Nuchter van Oogkleppen.

“Berarti, bisa disimpulkan bahwa ilmu tasawuf yang dikembangkan sebuah tarikat di tempat yang paling terpencil di Indonesia ini, sejatinya sudah pernah berkeliling negeri-negeri dan diserap oleh jiwa dan pikiran berbagai bangsa,” kata Guru Sufi.

“Ya boleh disimpulkan seperti, tapi apakah ada bukti bahwa sebuah tarikat pernah singgah di sebuah negeri untuk menunjukkan universalitasnya?” tanya Dr Nuchter van Oogkleppen.

“Jika kita mencermati tarikat-tarikat dan ajaran batiniah yang berkembang di Indonesia, kita akan mendapati aneka macam istilah yang dipungut dari bahasa bukan Arab seperti maya/khud’a, pir, hijab-i-ishan gardad, namaz, khatra, yazdan, qawwali,anqaa’, simurgh, suksma, dsb,” ujar Guru Sufi.

“Apa bukti lain bahwa tasawuf yang berkembang di Indonesia memang berasal dari berbagai negeri yang jauh?” tanya Dr Nuchter van Oogkleppen.

“Makam-makam yang dikeramatkan penduduk yang dianggap makam wali adalah makam ulama dari negeri jauh seperti Sunan Ampel ulama asal negeri Campa, Syekh Ibrahim Samarqandy di Tuban ulama asal Samarkand, Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik ulama asal Kasan Persia, Syekh Qurro Krawang asal Campa, dsb,” ujar Guru Sufi menjelaskan, ”Bahkan sampai sekarang ini. Kitab al-Hikam yang digubah Syekh Ibnu Atho’illah as-Sukandary masih dikaji di kalangan jama’ah tarikat, baik di pesantren hingga di masjid-masjid pedesaan. Kitab Ihya’ karya Imam Al-Ghazali juga dikaji sampai di tingkat jama’ah dusun. Kitab Thoriqatut Tasy karya al-Khudlori. Kitab Dalail karya Sulaiman Al-Jazli. Bahkan secara terbuka atau sembunyi-sembunyi kitab karya tokoh sufi asal Spanyol, Muhyiddin Ibnu Araby seperti Fushush al-Hikam, Futuhat al-Makkiyyah, Syajarah al-Kawn, Mawaqi’ al-Nujum, Tarjuman al-Ashwaq masih dikaji di kalangan tarikat Akbariyyah, Akmaliyyah, termasuk kitab Insan Kamil-nya Abdul Karim al-Jili.”

Baca juga 》  Ragam Perayaan Maulid Nabi di Nusantara

“Kalau tidak salah, kitab-kitab tasawuf yang Pak Kyai sebut itu baru masuk ke Indonesia pada abad ke-17 melalui Aceh yang dewasa itu dipimpin Sultan Iskandar Muda. Apakah di Jawa waktu itu sudah menggunakan kitab-kitab tasawuf seperti di Aceh?” tanya Dr Nuchter van Oogkleppen.

“Sejak era Wali Songo abad ke-15 sampai era Mataram awal abad ke-17 muslim Jawa sudah menggunakan kitab-kitab tasawuf karya walisongo dan penerusnya,” kata Guru Sufi.

“Oo o, apa benar ada karya sufistik lokal sejak era WaliSongo?” tanya Dr Nuchter van Oogkleppen dengan nada tinggi.

“Memang sampeyan belum tahu di Indonesia banyak naskah-naskah sufistik era wali songo sampai era Mataram seperti Suluk Wujil, Suluk Linglung, Suluk Sukarsa, Suluk Sujinah, Suluk Malang Sumirang, Suluk Ngasmara, Suluk Jalma Luwih, Suluk Suksma Lelana, Sastra Gending, Serat Centhini, Serat Jati Murti, dsb,” ujar Guru Sufi memaparkan.

“Pak Kyayi, apakah karena faktor penyebar Islam di Indonesia itu ulama tasawuf, maka Islam di Indonesia menjadi berbeda dengan Islam di negeri lain, terutama Islam golongan Nahdiyyin?” tanya Dr Nuchter van Oogkleppen ingin tahu.

“Berbagai teori dan pandangan ilmuwan Barat menengarai adanya pengaruh kuat tasawuf dalam Islam yang dianut masyarakat Indonesia sebagaimana James Peacock, R.C.Zaehner, P.J.Zoetmulder, Schrieke, Schuurman, Kraemer, dll, Kenyataannya, sampai sekarang pun peranan tasawuf masih sangat kuat di kalangan masyarakat nahdiyyin, di mana boleh dikata hampir tidak ada warga Nahdiyyin yang tidak ikut tarikat,” kata Guru Sufi.

“Sekarang saya ingin tahu persaudaraan universal akibat pengaruh tasawuf, di mana fakta riilnya Pak Kyai?” tanya Dr Nuchter van Oogkleppen minta penjelasan.

“Pertama-tama, sebagian besar Kyai di Indonesia memiliki garis nasab ke tokoh-tokoh sufi penyebar Islam di masa lampau yang berasal dari berbagai negeri. Trah Sunan Giri, genealoginya terhubung kepada Syekh Maulana Ishak asal Pasai di Aceh yang leluhurnya berasal dari Samarkand. Trah Sunan Gunung Jati, genealoginya terhubung dengan Syarif Hidayatullah asal negeri Mesir. Trah Sunan Ampel yang genealoginya terhubung dengan Syekh Ibrahim Samarqandy asal Samarkand dan ibundanya dari Campa. Itu artinya, secara genetika ulama di Indonesia memiliki darah campuran dari bangsa-bangsa lain asal berbagai negara. Sementara dalam berbagai pertemuan ulama tasawuf internasional, Indonesia tidak pernah tidak diundang karena banyak di antara ulama di Indonesia adalah murid dari tokoh sufi dunia,” kata Guru Sufi menjelaskan.

Baca juga 》  Kentrung, Dakwah Islam Lewat Dongeng

“Adakah contoh guru sufi dunia yang memiliki murid orang Indonesia?”

“Syaikh Ahmad mursyid Tarikat Syatthariyyah punya murid bernama Syekh Datuk Abdul Jalil masyhur dikenal Syekh Siti Jenar. Syaikh Abdul Hamid Daghestani punya murid Syekh Nawawi al-Bantani. Yang belakangan Sayyid Maliki al-Hassani memiliki banyak murid di Indonesia. Bahkan Syekh Hisham Kabbani muridnya sangat banyak di Indonesia,” kata Guru Sufi.

“Berarti pandangan bahwa tasawuf di Indonesia adalah tasawuf pemuja kuburan itu kurang tepat Pak Kyai?” tanya Dr Nuchter van Oogkleppen.

“Silahkan sampeyan simpulkan sendiri.”

“Termasuk pandangan yang menganggap bahwa tasawuf adalah faham eskapisme dalam Islam yang mengajak orang lari dari kehidupan riil untuk uzlah karena tidak mampu menghadapi masalah kehidupan riil, itu juga tidak tepat?” kata Dr Nuchter van Oogkleppen.

“Faktanya, justru ulama sufi yang selalu menghadapi tantangan riil dengan sikap realistis tanpa sedikit pun berapologi dengan argumen-argumen verbalistik sebagaimana dilakukan para penuduh,” kata Guru Sufi.

“Contoh riil ulama sufi selalu menghadapi tantangan riil dengan sikap realistis?”

“Sampeyan orang Belanda,” kata Guru Sufi, ”Silahkan sampeyan teliti Koloniaal Archive tahun 1800-1900, pasti akan sampeyan temui bahwa dalam kurun satu abad itu telah terjadi 112 kali perlawanan yang digolongkan pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda, yang dipimpin para guru tarikat dan kyai pesantren. Nah apakah orang-orang yang menuduh ulama sufi itu eskapis lari dari realita kehidupan, apa bisa membuktikan dengan data sejarah bahwa kakek dan buyutnya pernah melawan pemerintah kolonial Belanda? Jangan-jangan kakek dan buyut orang-orang yang menuduh itu justru menjadi begundalnya pemerintah kolonial Belanda.”

“Aha, itu dia,” sahut Dr Nuchter van Oogkleppen ketawa.

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top