Suatu Pagi di Jembatan Merah

Oleh Nur Lodzi Hady

Suatu kali di pagi buta 10 november beberapa tahun yang lalu kakiku gesit melompat turun dari gerbang kereta di stasiun Pasar Turi, Surabaya. Aku melangkah keluar mengabaikan sejumlah sopir taxi dan ojek yang menawari jasa tumpangan. Aku membabar senyum dan hinggap di sebuah warung rombong dan memesan segelas kopi manis serta sebungkus ketan. Sangat ingin menangkap segala energi dari keriuhan pagi: betapa Soerabaia di suatu jejak waktu yang lampau.

Suara klakson tetiba menjerit. Aku melihat tiga orang tentara Gurkha menyelinap di antara bangunan tua di seberang jalan. Sejumlah anak muda terdengar bicara sambil mengawasi keadaan. Sebagian lain masih sambil klangopan duduk dan membenahi sarungnya, “Cuk, onok Gurkha liwat kene iku maeng! Ayo rek!”.

Asap kulihat sangat dekat di depan mukaku. Tak terlampau tebal hingga dapat kulihat cukup jelas seorang tukang becak berhenti dan memekik dengan suara renyah, “Kopine ning“. Perempuan tengah baya penjual kopi itu tak kalah renyah menyahuti dan melolos senyum yang sedemikian lepasnya hingga gigi gerahamnya tampak, “Sampean sarapan sik cak. Iki loh ketane jik mongah-mongah“, godanya.

Laki laki itu segera duduk di sampingku. Sambil terus berbicara tentang hal-hal yang dijumpainya sesekali mulutnya terlihat meniup-niup kopi panas yang dituangnya kedalam cekungan lepek. “Sruuuppp..”. Aku melihat kelegaan yang sungguh sempurna terbit dari wajah yang keras itu. “Cak To, ayok budal. Suwene rek! Lapo ae seh!“. Terdengar suara dari luar pagar. “Sik tak ngentekno kopi. Eman kari thithik hare“, sahutnya nyaring. Ia membenahi letak kopiahnya dan menyambar parang yang tergantung dekat pintu. “Mbok, tak jaluk pangestu riko. Aku tak budal ngusir Londo..”. Sang ibu yang sudah renta sedikitpun tak menitikkan air mata. Ia mengusap kepala anaknya itu dengan tegar. “Iyo budalo, nak. Pangestune embok gowoen, Ngger“. Laki-laki itu mencium kaki ibunya dan segera bergegas keluar rumah bergabung dengan sejumlah pemuda yang menunggunya.

Baca juga 》  Defisit Tradisi dan Budaya Nusantara (Bag.2)

Bade ten pundi mas?“, tiba-tiba aku dikagetkan oleh pertanyaan itu. “Jembatan Merah, pak”, sahutku. “Monggo tak terno mas, gawe pelaris“. Aku mengangguk dan sebentar saja kami sudah bersepakat tentang ongkos ke arah tempat bersejarah tersebut. Dan setelah membayar kopi, ketan dan gorengan akupun segera naik keatas jok becak. Kami menyusur sepanjang jalan yang masih tampak sepi, sementara matahari perlahan merayap naik, menyibak fajar.

Di sebuah tikungan tiba-tiba kami disalip serombongan anak muda yang berlarian, memanggul senjata. Sesekali mereka bicara satu sama lain dengan suara nyaring dan lugas, dan sekali tempo mereka seperti memberi petunjuk seraya berbisik dan memberi semacam aba-aba. Dan tak lama setelah itu terdengar sejumlah letusan di kejauhan. Aku merasakan ada derap langkah kaki yang makin banyak menyusul di belakangku. Becak yang kutumpangi itu pun seperti melaju lebih kencang. Aku tak kuasa mencegahnya. “Cak Tooo!… tiaraaap!!”. Terkesima, aku mencari asal suara itu sebelum akhirnya sebuah ledakan keras terjadi di dekatku. “Blarrr!!!”.

Entah berapa lama aku tergeletak di sisi jalan itu dan tertimpa beberapa patahan kayu dan remahan batu bata dari runtuhan tembok pagar. Aku melihat beberapa tubuh sudah tak bernyawa terserak di dekatku penuh berlumuran darah. Penarik becak yang dipanggil Cak To itu kulihat tergolek dengan wajah teraliri darah bercampur pasir. Tubuh bagian bawahnya hancur. Aku tak punya keberanian melihatnya. Dan sebelum tersadar benar atas apa yang sedang terjadi, seorang anak muda belasan tahun tiba-tiba mendekat dan membimbingku untuk berdiri, “Sampean gak opo2 tah cak?. Ojok nglamun ae sampean iku. Akeh men (baca: mortir) rutuh“. Anak muda itu kemudian berlari lagi dan menghilang di balik puing-puing bangunan yang terbakar di bagian atapnya.

Baca juga 》  Defisit Budaya Dan Tradisi Nusantara (Bag. I)

Suara tembakan terdengar makin kerap persahutan. Ledakan keras juga susul menusul dimana-mana, menerbangkan debu dan asap. Teriakan dan pekik takbir riuh di kejauhan. Langkah kaki terdengar makin sering menghentak di sepanjang jalan itu, di sela suara rintih kesakitan dan tubuh-tubuh yang tersgungkur. Aku berlarian mengikuti gelombang para pemuda yang mengalir dari segala arah. Seorang dari mereka kulihat berlari sambil merundukkan kepala di dekatku. Ia melemparkan sepucuk bedil berlaras panjang kepadaku. Aku menangkapnya dengan sigap sambil masih tetap gamang dan dipenuhi kebingungan. Dugamitnya pundakku, “Merdeka, cak!”. Aku menatapnya penuh takjub sebelum sejurus kemudian sebuah letusan menyalak keras terdengar dekat sekali. Pemuda itu memegangi dadanya dan limbung. Ia tersenyum meregang nyawa dengan darah segar mengalir dari mulutnya, “Allahuakbar. Merdeka!”. Ia terhuyung sebentar dan lantas rebah di bahu jembatan. Kaos oblong putihnya yang sobek dan lusuh mengayun-ayun di terpa angin yang menebar bau anyir dan mesiu.

Aku masih berdiri tegak di tempatku. Terpana. Mataku menyapu semua sudut. Aku melihat jembatan yang memerah dan mayat-mayat yang terserak gugur di sepanjang jalan dan air sungai mengalir merah. Sepi dan beku.

(Bagi para pemuda, santri, kyai, seluruh elemen rakyat pejuang serta para syuhada yang gugur di medan pertempuran Surabaya hingga 10 November, semoga Allah menganugerahi kemulyaan bagi mereka di sisihNya. Lahumul fatihah). #10November #HariPahlawan #FatwaResolusiJihad

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top