Sowan Leluhur Majapahit: Antara Fakta dan Hoax Sejarah

Setiap upaya warga bangsa untuk ikut aktif menjaga, melestarikan dan menggali sejarah dan budaya warisan leluhur bangsa harus senantiasa diapresiasi, didukung oleh semua kalangan dan terutama oleh pemerintah. Hal ini penting agar sejarah masa lalu bangsa bukan saja dapat menjelaskan latar asal-usul dan nilai-nilai yang melingkupinya serta pengaruhnya di masa-masa kemudian, tapi terlebih juga agar generasi bangsa berikutnya mampu mengambil pelajaran penting dari nilai-nilai sejarah dan budaya tersebut untuk memperkuat semangat kebangsaan sehingga tidak sampai tercerabut dari akar kebudayaan dan peradaban warisan leluhur. Salah satu contoh seperti ditunjukkan oleh gerakan Save Trowulan yang bekerjasama dengan beberapa pihak ini. Berbagai aktifitas bertajuk sejarah dan kebudayaan digelar sebagai media untuk memaknainya dan mengundang kepedulian masyarakat untuk tidak abai terhadap sejarah dan nilai-nilainya yang berharga dengan kegiatan yang diberi tajuk Sowan Leluhur tersebut.

Namun demikian sejarah dan budaya bangsa, warisan tradisi dan peradaban masa lalu tidak semata-mata hanya dilihat dalam kacamata etic pihak luar yang sering tidak tepat. Menyandarkannya semata-mata pada riset dan pandangan orang luar, etic, sejarawan luar ini bukanlah pilihan tepat, sebagaimana juga tidak tepat menyandarkan pandangan sejarah pada dongeng dan kepercayaan kalangan grass root, yang awam penuh diliputi mitos, legenda, story telling, gugon tuhan yg justru dapat berakibat menambah ruwet dan semraeutnya objek sejarah peradaban itu sendiri karena tertutupi oleh berbagai cerita tutur, dongeng, takhayul, cocokologi, otak atik gathuk yang tidak dapat dijangkau riset kesejarahan yang rasional berdasarkan fakta-fakta empiris yang dapat diteliti. Sebab ilmu sejarah bukanlah ilmu cocokologi, bukan ilmu otak-atik gathuk, bukan pula ilmu klenik. Ilmu sejarah adalah ilmu yg tidak bisa berdiri sendiri sebagai satu disiplin karena Ilmu sejarah baru disepakati sebagai disiplin ilmu jika ditopang disiplin ilmu Arkeologi, Filologi, Hagiografi, Aetiologi, Epigrafi, Iconografi, Numinastik dan lain sebagainya.

Baca juga 》  Adipati Sengguruh antara Cerita tutur dan Historiografi

Pendekatan yang lebih masuk akal yang dapat kita gunakan adalah pendekatan sejarah emic, di mana kita melihat “wajah” kita sendiri di masa lampau melalui cermin sejarah serta menarik simpulan-simpulan yang akurat dan bermanfaat bagi sikap kita hari ini dan masa depan, seperti bunyi sebuah adagium, Semakin jauh kita mampu melihat ke belakang, maka semakin tajam kita menatap ke depan.

Tanpa mengurangi apresiasi Lesbumi NU atas semangat kegiatan sebagaimana terpapar dalam poster tersebut di atas, beberapa hal penting yang perlu dikritisi adalah penyebutan Candi Jayaghu di Tumpang Malang sebagai Pendharmaan Ken Arok. Sangkaan ini salah, tidak sesuai dengan fakta sejarah dan bisa menyesatkan. Masyarakat di sekitar Candi tersebut pun bahkan anak-anak SMP dan SMA sudah faham bahwa Candi Jayaghu atau lebih akrab disebut candi Jago adalah pendharmaan Wisynuwardhana. Bukan pendharmaan Ken Arok, sebab Kitab Negarakrtagama dengan jelas menyebutkan bahwa raja Majapahit Sri Rajasanagara (Hayam Wuruk) berziarah ke makam leluhurnya, Raja Singhasari pertama, baginda Sri Ranggah Rajasa di Kagenegan, di kaki timur Gunung Kawi (sekarang Desa Genengan, Pakisaji, Malang). Tegas dalam Negarakrtagama disebutkan Raja pertama Singhasari adalah Ranggah Rajasa. Sementara di Prasasti Mula Malurung disebut dengan nama Bhatara Syiwa. Sedangkan nama Ken Arok disebut satu-satunya di cerita fiksi Pararaton yang baru terbit 1920.

Demikian pula penyebutan Candi Kidal sebagai pendharmaan Tunggul Ametung. Hal ini lebih jauh lagi kekeliruannya. Nama Tunggul Ametung hanya ada di sejarah fiksi Pararaton, historiografi setingkat babad. Kitab ini bermasalah secara serius karena banyak berisi cerita-cerita yang membelokkan sejarah sekitar Majapahit.

Bahasan Pararaton baru muncul perempat akhir abad 18, Pasca Perang Jawa dan baru terbit 1920. Pararaton adalah salah satu upaya “agresi literasi” yang dilakukan kolonial untuk menjatuhkan moral dan mental para pengikut Diponegoro dan umumnya warga bangsa Indonesia yang merasa keturunan Majapahit, yang dengan segala kebanggaan mengagungkan, memuliakan, mengidolakan, dan menjadikan panutan tokoh Kartanegara, Wisynuwarddhana, Raden Wijaya, Gajahmada, Hayam Wuruk, Brawijaya, kebesaran Majapahit, Pajajaran, Sriwijaya, Demak, Pajang, Mataram dan lain-lain. Semua kebanggaan itu ditumbangkan oleh dongeng fiksi “katuturanira Ken Angkot” yang menggambarkan Datu Leluhur Raja-raja Singhasari dan Majapahit itu tidak lebih adalah seorang anak haram, saat lahir dibuang ke kuburan, dipungut maling bernama Lembong, tumbuh jadi pemuda bengal, tukang judi, perampok, pemerkosa, pengkhianat, perebut isteri dan kekuasaan orang, dan manusia jahat yg dikutuk tujuh turunan oleh Empu Gandring. Dia Ken Angrok atau Ken Arok, raja pertama Tumapel – Singhasari, orang yang menurunkan raja-raja Singhasari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Jogja, Surakarta, Mangkunegara, Paku Alam, termasuk leluhur Pangeran Diponegoro.

Baca juga 》  Gugurnya Mitos Bambu Runcing

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top