Ragam Perayaan Maulid Nabi di Nusantara

“Lain ladang lain belalang”, demikian bunyi sebuah pepatah melayu. Keragaman cara pandang, kepercayaan hingga pengalaman batin sosial selanjutnya mengemuka dalam berbagai bentuk ekspresi budaya masyarakat aneka warna, yang seluruhnya tampil sebagai kekayaan budaya Nusantara. Bahkan pada saat yang sama ia juga menjadi kekayaan dalam hazanah kebudayaan agama. Contohnya dalam peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Tidak sedikit bentuk-bentuk ekspresi yang dirayakan oleh masyarakat Islam di berbagai tempat di Nusantara. Perayaan-perayaan tersebut sudah berlangsung puluhan hingga ratusan tahun, sebagai sebuah kekayaan yang patut disyukuri.

Di Madura kita mempunyai Muludhen. Dalam peringatan ini masyarakat menyambut hari kelahiran Rasulullah tersebut dengan pembacaan Barzanji dan meuidlah hasanah untuk mengingat tentang arti kehadiran Nabi Muhammad yang diutus menyampaikan ajaran Islam kepada semesta, selaku khatamun Nabi, the greatest prophet. Masyarakat yang hadir dalam acara ini biasanya akan membawa tumpeng yang disertai dengan berbagai macam buah yang ditusuk dan diletakkan di sekitar tumpeng.

Sementara itu di Garut peringatan Maulid salah satunya diekspresikan dalam upacara Ngalungsur Pusaka, yakni membersihkan dan memberi wewangian kepada sejumlah pusakan peninggalan Sunan Rohmat atau dikenal dengan Kian Santang. Acara tersebut sebagai bentuk “ruwatan” terhadap nilai-nilai perjuangan dan dakwah sang Sunan dalam mentransfer ajaran Nabiyullah Muhammad kepada masyarakat setempat.

Hal agak serupa juga diselenggarakan di Cirebon, yakni Upacara Panjang Jimat yang biasa dihadiri oleh ribuan orang. Prosesi upacara peringatan Maulid ini selain dilakukan di 3 keraton di cirebon juga akan memuncak di makam Sunan Gunung Jati.

Selain tradi-tradisi di atas masih banyak dan beraneka ragam bentuk-bentuk ekspresi budaya masyarakat dalam menyampaikan rasa syukur dan suka cita atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Mojokerta ada tradisi Keresan, Grebeg Maulud di Jogja, Kirap Ampyang di Kudus, Moudo Lompoa di Takalar di Sulawesi Selatan serta Bungo Lado di masyarakat Padang Pariaman, Sumatra Barat.

Baca juga 》  Hadrah, Seni Rebana di Indonesia

Tradisi Bungo Lado (berarti bunga cabai) adalah tradisi yang dimiliki warga Kabupaten Padang Pariaman yang berbentuk pohon hias berdaunkan uang atau biasa juga disebut pohon uang. Uang kertas dari berbagai macam nominal ditempel pada ranting-ranting pohon yang dipercantik dengan kertas hias.

Tradisi bungo lado juga menjadi kesempatan bagi warga yang merantau untuk ikut menyumbang pembangunan rumah ibadah di daerah tersebut. Karenanya, masyarakat dari beberapa desa akan membawa bungo lado. Pohon uang dari beberapa jorong (dusun) itu kemudian dikumpulkan.

“Bunga Uang” yang terkumpul tersebut biasanya mencapai puluhan juta rupiah dan disumbangkan untuk pembangunan rumah ibadah seperti masjid dan mushalla. Tradisi maulid ini biasanya digelar secara bergantian di beberapa kecamatan.

Tradisi bungo lado terkait erat dengan profesi petani yang digeluti sebagian besar warga Sumbar. Di antara hasil pertani di wilayah tersebut adalah tanaman cabai yang bagi masyarakat Minangkabau disebut dengan lado. Cabai atau lado sebelum berbuah akan berbunga terlebih dahulu. Semakin banyak bunganya tentu akan semakin banyak pula buahnya.

Demikianlah ragam bentuk perayaan Maulid Nabi di berbagai daerah adalah kekayaan bangsa yang juga menjadi kekayaan hazanah Islam di Nusantara. Kekayaan yang bukan saja layak disyukuri tapi juga terus dijaga dan lestarikan keberadaannya agar masyarakat Islam di daerah-daerah yang berbeda-beda tersebut mempunyai daya rekat sosial dan budaya terhadap tanah air dimana mereka tumbuh, berpijak, menjalani hidup dan mengabdi kepada Allah, mengartikulasi ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah dalam suasana dan semangat persatuan dan keharmonisan sebagai entitas bangsa.(Lodzi)

Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top