Cerita Putu Wijaya Tentang Proses ‘Kelahiran’ Novel Telegram

Oleh. Putu Wijaya

47 tahun lalu, saya mengadopsi bayi perempuan yang saya beri nama Sinta Febrina, sebab dia lahir Februari. Karena saya akan ke Kyoto, Jepang setahun, saya titipkan di Yayasan Sayap Ibu, Kebayorn Baru.

Tapi prosesnya alot. Banyak pertanyaan yang harus saya jawab, meskipun biaya perawatan akan saya tanggung. Pihak Yayasan betul-betul ingin kejelasan yang bikin saya pusing.

Kenapa, kenapa, kenapa,……. akhirnya saya bilang nekad: karena saya seniman! Baru oke. Teman-teman saya di majalah TEMPO tertawa mendengar jawaban saya yang konyol tapi berhasil menyelamatkan saya itu.

Malam hari di kantor TEMPO di Senen Raya, ketika kantor sudah kosong, saya mulai menulis sebuah cerpen yang dipesan Bunyamin, majalah “69”. Tapi karena Bunyamin tak muncul-muncul untuk mengambilnya, cerpen itu tumbuh, saya tambahi hingga jadi novel.

Saya ingin menulis untuk dibaca Sinta nanti kalau sudah besar. Tapi baru 4 bulan Sinta sakit perut dan akhirnya meninggal di RS Fatmawati. Ia tak sempat membaca TELEGRAM, yang menang dalam sayembara penulisan novel DKJ.

Kemudian Telegram dibuat film yang disutradarai Slamet Raharjo. Diterjemahkan ke bahasa Belanda, Prancis, Jepang, Inggris dan sekarang bahasa Arab (Mesir).

Jkt. 22 Okt ’18

Baca juga 》  Sastra Pesantren Dalam Pergulatan

Share this post

scroll to top