Prosesi Ritual Tiban

Sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Desa Sawentar, Kanigoro, Blitar mengadakan ritual Tiban. Para warga sudah menunggu sekitar satu tahun lamanya untuk bisa menyaksikan agenda ini. Tidak hanya dari masyarakat Desa Sawentar saja yang ikut berpartisipasi, tetapi dari desa-desa lain juga turut andil dalam ritual ini.

Pagelaran Tiban di Desa Sawentar biasanya dimulai dari siang hari sampai sore hari. Ini merupakan waktu yang tepat guna pertunjukan Tiban, mengingat banyak petani-petani di wilayah ini sudah senggang aktivitasnya. Selama berhari-hari lamanya, pagelaran semacam ini akan terus dihelat sesuai dengan izin dari pihak terkait dan ketentuan yang dibuat panitia penyelenggara-Paguyuban Seni Tiban.

Di hari pertama, para warga sudah berkerumun memadati lokasi. Itu tandanya, ritual segera dibuka oleh panitia penyelenggara. Para penonton dan Jawara ditempatkan secara terpisah. Ada dua kubu bagi pemain Tiban yang bertanding. Letaknya ada di sudut gelanggang pertandingan dan saling berlawanan. Para Jawara ini lazimnya dikelompokkan sesuai dengan desanya masing-masing.

Saat semuanya siap, musik berbunyi dan ritual Tiban langsung dimulai. Umumnya, para Jawara dari desa penyelenggara naik panggung lebih dulu. Mereka mencari lawan yang mau bertanding dengannya.

Tatkala lawannya sudah ada, wasit ritual atau akrab dipanggil dengan Pelandang bersiap-siap mengawal jalannya pertandingan. Dalam ritual ini musik pengiring akan terus berbunyi sampai pertunjukan berakhir.

Alat pengiringnya terdiri dari Kenong, Gong dan Kendang. Alat msuik Tiban di desa Sawentar saat ini mengadopsi dari kesenian Jaranan. Para penabuh dan alat musiknya pun memakai dan memanfaatkan grub kesenian Jaranan yang ada di desanya.

Dahulu sebelum menggunakan alat tersebut, masyarakat Desa Sawentar memakai Kentongan dan Kendang sebagai musik utamanya. Tidak ada tambahan alat musik lainnya. Seluruh iringan pertunjukan pun ditentukan oleh alat musik ini.

Baca juga 》  Menangkal Radikalisme Dengan Kekuatan Budaya

Irama-irama dari musik sekaligus menentukan bagaimana peserta Tiban harus bertindak. Selain itu, peserta harus berkreasi dengan cara menari. Saat alunan musik iramanya lebih cepat atau suara Gong berbunyi, maka peserta harus mencambuk lawannya.

Dalam kesenian Tiban, ada aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh para pemain. Para peserta melepas bajunya saat memasuki gelanggang. Mereka cuma memakai celana saja.

Pecut dipegang dengan tangan kanan dan genggamannya setara dengan pucuk bawah lidi. Fungsinya agar saat menyabet, lidi bagian bawah ini tidak mengenai kecer ati lawannya. Cara mencambuk pun dari arah kanan, tidak boleh dari arah kiri. Tak kalah penting dari semua itu, pecut para pemain tidak diperkenankan mengenai kepala dan alat kelamin musuhnya.

Peserta memiliki banyak trik untuk menghindari cambukan lawannya. Masing-masing orang mempunyai caranya sendiri. Semakin sedikit bekas luka yang diterima, Jawara tersebut dianggap tangguh karena ia mampu menghindari setiap cambukan yang diarahkan kepadanya.

Seorang Jawara yang sudah lama menggeluti Tiban, pasti mengerti seluk beluk permainan lawannya. Fokus utama penglihatan para pemain ini terletak pada ujung pecutnya. Ke mana pun ujung pecutnya bergerak, itulah yang sedang diamati. Mereka semua mempunyai kesempatan mencambuk sebanyak tiga kali.

Semua peserta adalah laki-laki sekitar 20 tahun keatas, dan wasitnya pun juga dipilih dari orang yang memang mengerti seluk beluk peraturan kesenian Tiban. Hal ini diperlukan untuk menjaga stabilitas maupun sportivitas peserta.

Perihal pecut, peserta dilarang membawanya sendiri. Peraturan ini ditegaskan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pecut sudah disediakan oleh panitia, agar seimbang bobotnya.

Alunan musik terus menerus didendangkan, sehingga memberikan nuansa dan semangat dalam pertarungan. Sebenarnya Tiban ini dilakukan khusus oleh para petani yang tujuan utamanya benar-benar meminta hujan. Tetapi, selain itu mereka juga mengharapkan terciptanya kerukuran karena ada ajang berkumpulnya masyarakat sekitar.

Baca juga 》  Lesbumi Cirebon Munculkan Kearifan Lokal Dalam Manajemen Bencana

Sekarang, ritual Tiban dirasakan berbeda oleh para pelakunya. Dulu, ketika kesenian Tiban dilaksanakan, hujan langsung datang. Akan tetapi kini memerlukan berkali-kali ritual Tiban agar hujan mau turun.

Terkadang hal inilah yang membuat pemahaman masyarakat bisa berbeda tentang bagaimana mereka memaknai ritual Tiban. Jangan sampai prosesi dilihat sebagai hiburan semata. Jika itu yang terjadi, maka hilanglah esensi Tiban sebagai ritual meminta hujan. []

Narasi: Imam Syafi’i dan Muhamad Syaiful; Reporter: M. Irvan Khoiri, Mu’awan Shohihi, Kevin Nasrullah, Fauzi Ridwan

Sumber: http://blog.iain-tulungagung.ac.id/pkij/2018/10/19/prosesi-ritual-tiban/

Share this post

scroll to top