Potensi di balik Dolanan Sluku-sluku Bathok

Bahasa Jawa                             (Jawa Kuno):
Sluku-sluku bathok                   (Siluku-siluku bathuk)
Bathuke ela-elo                         (bathuke ila-elo)
Si rama menyang Sala             (Sirama mwang Sala)
Leh-olehe payung mutha        (Leh-olehe payung Motta)
Mak jenthit lolo lobah              (Ma Jintit Lelo Lobha)
Wong mati ora obah                (wwang mati nora hubah)
Yen obah medeni bocah         (yan hubah memedeni bachcha)
Yen urip goleka dhuwit           (yan hurip ngupaya wwit).

Bahasa Indonesia:
‘Angguk-angguk kepala (kening)’
‘Kening digeleng geleng’
‘Mandilah untuk Sala (simbol pohon yang tegak)’
‘memperoleh payung motta (keutamaan)’
‘Ma (huruf Ma) mencucurkan airmata menghapus nafsu serakah
‘Manusia mati tidak bergerak’
‘Kalau bergerak menakut-takuti anak (bocah/bachcha= anak kecil)’
‘Jikalau hidup carilah Asal-usul Kejadian’

Makna yang tersirat di dalam tembang dolanan “Sluku-sluku bathok” yang diperuntukkan bagi anak-anak, secara etimologi memuat nilai dedaktik-religius mengajak anak-anak sejak dini untuk berdzikir, berdoa dan menegakkan shalat (Sala dalam Bahasa Kawi bisa bermakna Pohon Sala (Vatika Rousta) yang tinggi menjulang dan bisa bermakna balairung, aula, paseban) agar memperoleh naungan payung keutamaan dari Tuhan, di mana lima huruf M (Minum = Menenggak Miras/ mabuk; Main = Judi; Maling = Mencuri; Madon = Berzinah; Madat = Kecanduan obat bius) yang mencucurkan airmata bagi yang (berjuang) melemahkan nafsu serakah, di mana saat orang mati tidak lagi terikat dengan kehidupan dunia sehingga arwahnya bergerak kembali ke rumah dan menakuti anak-anak. Begitulah, senyampang masih hidup hendaknya manusia berusaha mencari asal-usul Kejadian (Sangkan Paraning Dumadi).

Dalam syair tembang dolanan ‘Sluku-sluku bathok’ memang memiliki makna manusia hendaklah membersihkan tubuh dan batinnya untuk senantiasa berdzikir mengingat Allah dengan mengucap ela-elo (ila-elo: laailaha ilallah sama seperti dimaksud tembang dalam seni kentrung ) mengangguk-angguk dan menggeleng-gelengkan kepala sambil mengucapkan lafal laa illa ha illallah. Namun di balik makna etimologis yang memuat nilai dedaktik-religius itu, tersembunyi makna ergonomis-fisionomi, di mana gerakan-gerakan dari dolanan ‘sluku-sluku bathok’ itu mengaktifasi jaringan syaraf untuk merangsang pengembangan otak kanan anak-anak. Semakin sering gerak dolanan sluku-sluku bathok dilakukan, maka kepekaan otak kanan anak tidak saja semakin peka melainkan kemampuan daya ingatnya pun akan semakin menguat. Begitulah para wali dulu dalam mendidik anak-anak tidak sekedar mengajarkan ilmu pengetahuan melalui metode belajar sambil bermain, melainkan di balik metode belajar dan bermain itu tersembunyi usaha sistematis untuk meningkatkan kecerdasan anak dengan mengaktifasi dan merangsang perkembangan otak kanan, otak kiri dan otak atas yang dipadukan secara integral dengan perkembangan intuisi anak. (Kh. Agus Sunyoto)

Baca juga 》  Defisit Budaya Dan Tradisi Nusantara (Bag. I)

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top