Pikiran Cekak, Intuisi Buntu

Oleh. K Ng H, Agus Sunyoto

Belakangan ini viral berita picisan, recehan, murahan, bahkan bau sampah tentang hubungan kausalitas bencana alam dengan kemusyrikan yg dilakukan masyarakat seperti Larung Sesaji, Petik Laut, Larung Tabut, di samping perilaku LGBT. Saking yakin dengan keyakinan butanya, orang-orang cekak pikiran dan buntu intuisi ini, rame-rame pasang spanduk larangan untuk penyelenggaraan aktivitas musyrik itu, bahkan kemudian dengan garang dan ganas mereka membubarkan tradisi yg akan mendatangkan bencana itu.

Sufi Kenthir yang ngopi di warung Mak Ti, membincang perkara viral itu bersama Najib, Asrori, Fikri. Kebetulan ada Wan Abud, Khoirul, Ba Dalah, aktivis Front Pembela Imam.

Sambil lihat siaran TV, Sufi Kenthir mencela berita pelarangan tradisi budaya umat lslam tradisional itu sebagai tidakan bodoh orang-2 cekak pikiran dan buntu intuisinya.

Wan Abud langsung menyalak marah dan menuding Sufi Kenthir sebagai orang kafir yg berpikiran sekuler. “Antum orang tidak beriman! Tidak faham Tauhid. Tidak kenal Al-Qur’an,” seru Wan Abud.

“Memang tradisi tahunan Petik Laut, Larung Sesaji, Larung Tabut dapat mengundang bencana?” tanya Sufi Kenthir.

“Antum belum tahu alasan kita melarang perbuatan musyrik itu?” Sergah Wan Abud dengan nada tinggi, “Bukankah sudah jelas akibat perbuatan musyrik itu bangsa lndonesia ditimpa bencana? Antum mikir gak?”

“Gini Wan,” sahut Sufi Kenthir pelan,” Ada dua hal yg menjadikan pandangan dan keyakinan Antum salah besar dan bahkan sesat.”

Wan Abud berdiri mau menampar Sufi Kenthir. Tapi Sufi Kenthir menghardik dengan ancang-ancang akan meninju muka Wan Abud. Akhirnya, keduanya duduk kembali.

Setelah diam sejenak menenangkan diri, Sufi Kenthir melanjutkan, “Maaf ini. Jika tradisi Petik Laut, Larung Sesaji Mahesa Lawung, Larung Tabut adalah perbuatan musyrik yg mendatangkan murka Allah dalam bentuk bencana gempa bumi, tsunami, tanah longsor, tanah terban, angin puting beliung, banjir bandang, mestinya tiap tahun usai pelaksanaan tradisi musyrik itu terjadi bencana. Buktinya, setiap tahun selama berabad-abad tradisi itu dijalankan tidak pernah terjadi bencana tahunan. Bencana terjadi secara aksidental tanpa waktu yg jelas,” papar Sufi Kenthir.

Baca juga 》  Prosesi Ritual Tiban

Wan Abud diam memikirkan kata-kata Sufi Kenthir.

“Yang kedua,” lanjut Sufi Kenthir,” Seperti Antum, saya yakin bahwa LGBT-P bisa membawa akibat bencana. Tapi kita tidak bisa serta merta menuding bahwa negara yg membebaskan LGBT-P pasti akan digulung Allah dalam bencana. Tidak pasti waktunya. Kita jangan mendikte Allah sesuai nafsu kita seolah kita adalah Allah sendiri. Itu jiwa dan pikiran lblis yg dipaksakan!”

“He, bagaimana Antum bisa bicara seperti itu?” Seru Wan Abud marah,”Bukankah sudah jelas, Palu dihajar gempa dan tsunami karena di sana LGBT bebas dan diikuti anak-2 remaja.”

“Maaf Wan,” kata Sufi Kenthir, “Jika LGBT-P identik dgn turunnya bencana alam secara langsung, bagaimana dengan fakta negara Belanda, Swedia, Perancis, USA, Australia, Canada yg bebas LGBT-P dan mensahkan perkawinan sejenis. Kenapa negara-2 itu tidak digulung bencana? Bukankah kemusyrikan dan kekufuran di negara-2 itu sangat tinggi dan meluas?”

Wan Abud terperangah. Ia tidak dapat menjelaskan fenomena yg terjadi di negara-2 kapir, musyrik, pembebas praktek LGBT-P yg dalam realita tetap aman, damai, makmur, sejahtera.

#LAWANTAKHAYULMODERN
#lawanpembodohanumat
#perangikampretprimitif
#lawanprogrambaduinisasi

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top