Pertarungan Corporate Vs State di Era Global

Oleh. K Ng H Agus Sunyoto

Di tengah dinamika perkembangan ekonomi di era Global yang dihegemoni tatanan baru World System, secara sistemik umat manusia terbagi dalam dua Kelompok Besar yang selalu bersaing ketat memperebutkan Kekuasaan Ekonomi dan Politik, yaitu Kelompok Manusia yang memihak Negara dan Kelompok Manusia yang memihak Corporate.

Individu-individu Penguasa Ekonomi Dunia seperti Rothschild, Morgan, Ford, Bloomberg, George Soros, Rockefeller, dll adalah segolongan Tokoh Elit Global yang menunggangi dan mengendalikan wahana Corporate. Mereka itu disebut “Global elites” in World System.

Ruang gerak Golongan Elit Global Corporate ini skala jangkauannya internasional, lintas Negara, tak kenal identitas etnik dan lokalitasnya, bangsa, termasuk elit lintas territorial Negara. Mereka elit global yang menurut George Soros adalah elit utama dari a global open society.

Elit Global ini tidak perduli dengan Nation, Nationality, Nation State, bahkan Citizenship. Mereka bebas memilih di negara mana mereka akan tinggal dan berinvestasi. Mereka menolak konsep Nasionalisme, Patriotisme, Feodalisme, Sosialisme, sebaliknya mereka membangun feodalisme baru yang disebut Aristocracy of Money, di mana uang adalah inti dari dinamika perubahan. Uang adalah bapak dan ibu dari nilai-nilai, konsep, gagasan, ide-ide yang melahirkan tata aturan Kehidupan baru, terutama yang menopang Corporatism. Uang adalah sesembahan yang menentukan segala usaha mewujudkan impian tentang surga dunia.

Para Elit Global yang super kaya ini merupakan active-members dari organisasi internasional lintas negara seperti Club of Rome, Bilderberger, Proticol Zion, Federal Reserve System, Council on Foreign Relations, Trilateral Commission, Round Table Conference Group, European Union, United Nations, World Bank, International Monetary Fund, Bohemian Grove, Le Cercle, Yale University society Skull and Bones,

Para Elites Corporate inilah yang menciptakan ideologi Komunisme, Liberalisme, Sekularisme, Agnotisme, Humanisme. Atheisme, Anti Religion, induce pornography, Fundamentalism of religion.

Seluruh aspek kehidupan manusia diorientasikan kepada komoditas, untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi sebagai keniscayaan. Seksualitas, alkohol, obat-obatan terlarang, hukum, pendidikan, agama, bahkan manusia dijadikan komoditas, sehingga lahir fenomena baru: Libidonomic, Multi Level Marketing, Judicionomic, Trafficking, Educationomic, Religionomic.. Itu fenomena logis dari tatanan baru yang mereka sebut Compassionate Capitalism.

Semua usaha dilakukan, terutama menjadikan manusia kehilangan kemanusiaan, karena manusia secara umum dirancang untuk gagal menjadi Ubermensch yang unggul, cerdas, kuat, berani, mandiri, trampil menghadapi seleksi alam, sebaliknya manusia diarahkan agar menjadi Untermenschen, manusia-manusia berkualitas rendah yang disebut Disposable People, kawanan orang-orang yang bodoh, emosional, fanatik, pemarah, tidak mandiri, sempit wawasan, tuna ketrampilan dalam menghadapi seleksi alam; orang-orang naik yang hidup sekedar menjadi “docile” – mudah dikendalikan melalui control their reptile brain yang disebut Croc Brain. Usaha sistematis pembodohan ini yang paling efektif dilakukan lewat media massa dengan industri entertainmen yang melalui acara – acara bersifat gosip, drama sosial, negative News, berita hoax, topik kajian bersifat fitnah, dusta, adu domba, yang target utamanya adalah penghancuran kohesi sosial di negara-negara yang masih berstatus State, untuk dibawa ke situasi Wild Wild of The beast yang hanya mungkin diatur dan dikendalikan oleh para Warlord peliharaan Elites Global penguasa Corporate.

Baca juga 》  Manusia dan Kebudayaan: Kontestasi Logika, Etika dan Estetika

Target capaian para Global Elites adalah menciptakan “The New World Order“, “novus ordo seclorum“, tatanan dunia baru di mana mereka menjadi “tuhan” yang mahakuasa dan mahamengatur dunia, sebagaimana mereka mengatur badan usaha swasta yang dikelola dan diatur oleh “direktur” dan “manajer” kelas global yang mereka kendalikan.

Begitulah dalam fakta, Elites Global itu berkonspirasi mengendalikan Sentra Pemerintahan, industri, militer, dan media dengan target membangun global-hegemony-system. Sejarah mencatat, mereka terlibat dalam semua perang besar di dunia yang pecah sepanjang 200 tahun terakhir, yang dengan terpaksa pihak-pihak yang berperang membeli senjata pemusnah dari pabrik-pihak senjata milik mereka.

Sementara itu, lawan dari Corporate adalah State. Sejarah mencatat betapa banyak State dikalahkan dan dikendalikan oleh Corporate melalui para Elites Global. Melalui pendekatan Divide et lmpera, para Elites Global itu menguasai State untuk dijadikan “Perusahaan” ysng disebut State Capitalism.

John Pilger, jurnalis Australia memberitakan bahwa bulan November 1967, setelah Soekarno jatuh, di Jenewa, Swiss, diselenggarakan Konferensi tiga hari yang disponsori Time-Life Corporation. Konferensi yang dipimpin Rockefeller itu mengundang semua pimpinan perusahaan raksasa dunia seperti Chevron, BP, Shell, General Motor, Chase Manhattan, lmperial Chemical lndustres, BAT, Siemens, US Steel, dll.

Para konglomerat Elites Global itu menunggu waktu untuk bagi-bagi sumber daya alam dari presiden Rl yang baru: Soeharto. Sejarah mencatat bagaimana Soeharto menyetujui tanpa syarat pengambil-alihan perusahaan-perusahaan Negara sebagian demi sebagian, sektor demi sektor, sampai tuntas. Begitulah PT Freeport mendapat konsesi Gunung Tembaga di Papua Barat. Konsorsium USA-Eropa memperoleh tambang nikel bahkan Alcoa mendapat bagian terbesar bauksit lndonesi, lncoe di Sulawesi dapat bagian lahan 3,3 juta hektare. Bahkan hutan tropis di Sumatera dibagi-bagi kepada perusahaan USA, Perancis, Jepang. Begitulah, lndonesia State perlahan-lahan diigiring agar berubah menjadi Corporate, dimana dengan Amandemen UUD 45 lewat kaki tangan para Elites Global yang berkhianat sejak era Soekarno, NKRI secara de facto telah berubah menjadi sepertiga State dan dua pertiga Corporate yang tegak di bawah naungan kekuasaan Aristocracy of Money.

Begitulah di era global Millenial ini, NKRI secara teoritik tidak jelas keberadaannya, sehingga terdapat tawaran alternatif untuk diubah menjadi khilafah yang sejatinya dirancang oleh Elites Global dalam rangka lebih memudahkan dalam pengaturan dan pengelolaan kekuasaan dibanding sistem demokrasi.

Baca juga 》  Bendera HTI Bukan Bendera Tauhid

Persaingan State versus Corporate tidak berhenti meski blok State penganut Sosialisme runtuh dekade 1990-an. Vladimir Putin dengan Rusia State, Xi Jinping dengan RRC State, Rouhani dengan Iran State, Kim Jong Un dengan Korut State, saling bersaing, konflik, perang dagang, psywar, proxy war melawan Corporate yang menunggangi Negara abal-abal untuk saling menjatuhkan satu sama lain.

Peta global mencatat bagaimana di USA George Soros bisa Pro Hillary, sebaliknya Anti Trump. Obama pun mensupport Hillary, karena mereka sejatinya dua pion Corporate, dua pemain dalam satu kubu di mana selalu ada George Soros di balik rezim ini.

Dalam konteks ini, Trump kelihatan akan membawa USA kepada State, yang gelagatnya sejak awal sudah terbaca di mana kemenangan Trump selalu dikaitkan dengan Vladimir Putin, sehingga Pemerintah Trump dianggap Elites Global memihak State, sehingga digolongkan sekubu dengan Xi Jin Ping dan Vladimir Putin. Artinya, USA kini sedang terlibat konflik untuk saling berebut kemenangan antara Corporate dengan State. Itu sebab, menurut kader PSI yang pro Corporate, Syahganda Naingolan, Donald Trump disebut sebagai “The Evil Winter“.

Kondisi internal USA dewasa ini mirip tahun 1960-an sewaktu John F. Kennedy yang dipengaruhi Soekarno berusaha membawa USA ke State tetapi berakhir dengan tebusan nyawa Kennedy disusul jatuhnya Soekarno. Apakah Trump akan mengulangi hal yang sama, kita tunggu perkembangan konflik dagang dan mata uang antara USA versus China.

Di RRC sendiri sedang berlangsung persaingan antara State vs Corporate, di mana dalam perkembangan politik dan ekonominya, Xi Jinping memberi peluang besar bagi Globalist Jack Ma untuk menbangun Cina yang lebih terbuka dan realistis dalam menghadapi tantangan Global di era Millenial. Tapi pada sisi lain, RRC menerapkan kebijakan-kebijakan yang sangat pro State seperti One Belt One Road (OBOR), dengan 2nd Silk Road-nya, One Country and Two System mengelaborasi sistem Kapitalis dan Sosialis secara berdampingan, memainkan double currency dan Cryptocurrency yang menjadi ancaman serius bagi sistem keuangan yang dianut Corporate.

Baca juga 》  Suatu Pagi di Jembatan Merah

Lepas dari terjadinya disruption akibat persaingan antara State versus Corporate di USA, China, Rusia, dan Eropa, nasib lndonesia yang paling tidak jelas. Indonesia State bukan Corporate juga belum tetapi sudah terperangkap dalam mekanisme Aristocracy of Money di seluruh aspek sosial kemasyarakatan maupun Kenegaraan, sambil sebagian besar rakyatnya berteriak penuh percaya diri: “NKRI Harga Mati!!!” Sementara yang lain teriak keras, “Khilafah!! Khilafah Negara Allah!!”

Para Elites Global ketawa ngakak menyaksikan lndonesian Drama hasil karya kreatif mereka yang melodramatik.

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top