Ngapain Ribut Kalimat Tauhid

Abdullah Wong

Allah itu bukan huruf, bukan nama, bukan sifat, bukan suara. Semua itu hanya pengantar untuk hamba yang masih kekanak-kanakan.

Tauhid Murni tak perlu huruf-huruf, khat, kaligrafi atau suara lagi. Rasane Gusti mustahil hanya diwakili dengan lambang-lambang. Bahkan lambang-lambang dapat menjadi berhala yang menyesatkan.

Jangan merasa lantaran sudah menyebut nama Allah lalu sudah Tauhid! Jangan merasa kalau sudah membaca Laa ilaha Illa Allah lantas sudah lolos dari jeratan berhala diri sendiri. Hayatilah Rasa-Nya Allah. Dihayati dan dirasakan dalam semua nafas kehidupan.

Memahami Tauhid dengan mengerahkan akal, pastilah gagal! Memahami Tauhid hanya dengan perangkat Filsafat, pastilah sesat! Karena cahaya akal hanya dapat menembus lapisan langit kelima saja. Bila sampai langit kelima, akal sebagaimana sandal, harus ditinggal! Hanya Yaqin yang bisa menjadi piranti untuk menembus langit berikutnya.
Tapi Keyakinan hati pun hanya mampu menembus lapisan langit ke-enam. Hati yang yakin, bahkan hati itu sendiri, mesti dilucuti! Ini sudah urusan RAHSA terdalam.

Laa ilaha illa ana itu tidak ada TUHAN selain AKU!
Inilah TITIK satu dalam huruf hijaiyah.

Laa ilaha illa anta itu tidak ada TUHAN selain ENGKAU!
Inilah makna dari TITIK dua dalam huruf hijaiyah.

Laa ilaha illa huwa itu tidak ada TUHAN selain DIA
Inilah makna dari TITIK tiga dalam huruf hijaiyah.

Laa ilaha illa Allah itu tidak ada TUHAN selain ALLAH!. Maka AKU, ENGKAU dan DIA, semuanya ALLAH!

Lalu dimana yang disebut makhluk? Semua makhluk itu SEMU yang disebut maujud mumkin, yakni wujud yang cuma mungkin; yang hanya ada karena diadakan. Semua nama-nama dan symbol-simbol hanyalah fana! Semua itu hanya sandiwara! Seperti dalang yang sedang memainkan wayang, maka wayang-wayang itu tak perlu bingung dan sibuk memikirkan jalan ceritanya. Manut saja kepada dalang.

Baca juga 》  Ngalah: Menuju Allah

Dihidupkan ya bersedia. Dimatikan nggih silakan. Dikasih enak ya boleh. Dikasih susah ya ok ok saja. Jadilah wayang yang selalu gembira, bahagia dan ceria menerima setiap kisah hidup dari Sang Maha Dalang.

Share this post

scroll to top