Mbah Google dan Ilmu Yang Manfaat

Oleh. Abdullah Afif

Setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi putra putrinya. Berharap kelak mendapat kehidupan bahagia lahir batinnya, dilimpahi kesehatan, rizki, serta memiliki keluasan ilmu dan menjadi anak-anak yang pandai dan pintar. Namun demikian jika hanya berharap anak kita dapat pandai saja maka sebenarnya tidak perlu repot-repot mencarikan guru yang tepat, mencari lembaga pendidikan yang baik. Cukup dengan membelikan smartphone standard dengan kecepatan secukupnya. Merk bisa apa saja asal tak boleh kehilangan satu syarat utama: paket data tersedia.

Kemudian ajari saja anak-anak iti googling untuk mencari segala informasi dan pengetahuan yang diinginkannya. Kalau bosan membaca bisa nonton penjelasan langsung secara audio visual lewat youtube seperti ceramah atau presentasi tentang suatu topik bidang keilmuan tertentu. Catatan dan apalagi hafalan tentu tudak diperlukan. Sumber informasi yang sudah didapat tadi cukup dishare di medsos maka sudah otomatis nangkring di lini masa baik facebook maupun twitter. Terserah mau disetting public atau privat, tergantung keperluannya.

Maka demikianlah materi dan pengetahuan bisa dengan mudah mereka peroleh tanpa perantara seorang guru seorang pun. Dari sini bisa terlihat tampak mudah, sederhana bahkan mungkin murah. Tapi perlu diketahui bahwa sang anak tersebut, meski bisa jadi memiliki serapan pengetahuan kognitif yang berlimpah yang dipungutnya secara acak dari berbagai sumber, namun ilmu tersebut akan jauh dari mendapatkan keberkahan, tentu disamping potensi semerawutnya sanad keilmuan. Demikianlah tradisi pesantren mengajarkan pentingnya ilmu, tapi terlebih penting bagaimana kita memperlakukan ilmu dan proses untuk mendapatkannya sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Santri-santri ibtidaiyah di lingkungan pesantren sudah pasti memahami hal demikian yang diserapnya dari ta’lim muta’allim atau syi’ir Alala yang sederhana namun bermakna dalam. Karenanya sudah umum diketahui, tradisi santri tak sembarangan meletakkan kitab-kitab kuning yang digunakannya untuk mengaji. Menaruhnya disembarang tempat seperti di tempat kotor, dibuat sebagai alas tidur, digeletakkan sejajar kaki dan seterusnya, yang itu akan dianggap sebagai sebuah keganjilan. Terlebih jika di sana tertulis ayat Al-Qur’an, hadist atau kalimat-kalimat mulia lainnya. Mereka akan menyimpannya, meletakkannya di tempat yang layak dan terhindar dari potensi terjatuh ke tempat yang tidak sepantasnya. Sebab satu hal yang paling ditakutkan oleh santri ketika sedang menimba ilmu di pesantren, yaitu takut ilmunya kelak tidak manfaat.

Baca juga 》  Defisit Tradisi dan Budaya Nusantara (Bag.2)

Berikut adalah empat kunci penting agar anak bisa pandai dengan jalan ilmu yang berkah:

Pertama, selalu upayakan peduli pada guru (jawa: open karo gurune), baik oleh sang murid sendiri ataupun walinya. Hal ini dapat kita teladani dari kisah sahabat Abdullah bin Abbas yang begitu peduli pada diri Rosulullah Muhammad Saw. Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, yakni baru berumur 13 tahun. Semasa hidupnya, Rasulullah benar-benar akrab dengan mereka yang hampir seusia dengan Abdullah bin Abbas. Ada Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid dan sahabat-sahabat kecil lainnya.

Abdullah bin Abbas merasakan hidup bersama Rasulullah benar-benar telah membentuk karakter dan sifatnya. Suatu ketika benaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana cara Rasulullah shalat. Malam itu ia sengaja menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits, istri Rasulullah saw.
Sepanjang malam ia berjaga, sampai terdengar olehnya Rasulullah bangun untuk menunaikan shalat. Ia segera mengambil air untuk bekal wudhu Rasulullah. Di tengah malam buta itu, betapa terkejutnya Rasulullah menemukan Abdullah bin Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudhu untuknya.
Rasa haru dan kagum menyatu dalam dada Rasulullah. Beliau menghampiri Ibnu Abbas, dan dengan lembut dielusnya kepala bocah belia itu. seraya berdoa:

اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

(HR. Ahmad dalam al-Musnad 1/328 dengan sanad yang hasan) “Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu.” Demikian doa Rasulullah untuknya ketika itu.

Atas berkah doa Rosulullah tersebut akhirnya Ibnu ‘Abbas tumbuh sebagai anak muda yang cerdas dan unggul dan memiliki pemahaman yang mengagumkan terhadap makna ayat Alqur`an. Karena keunggulan inilah, sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengajak Ibnu ‘Abbas untuk mengikuti majelis musyawarah beliau yang diisi oleh para sahabat yang berusia lebih tua. Dan juga atas berkah doa Rosulullah itu kelak jadilah Ibnu Abbas tersebut seorang penulis Tafsir Ibnu Abbas yang masyhur itu.

Baca juga 》  Ragam Perayaan Maulid Nabi di Nusantara

Dari kisah ini dapat diambil hikmah bahwa agar mendapatkan ilmu yang berkah dan manfaat maka sebagai murid ataupun sebagai wali murid sudah sepatutnya bersikap penuh perhatian dan tunduk kepada para guru kita maupun guru orang tua kita.

Kedua, senang bersedekah untuk kelancaran tolabul ilmi. Salah satu bentuk sedekah ini juga bisa tampak pada kebiasaan atau tradisi bancakan atau selamatan manakala si anak hendak berangkat menuntut ilmu atau pada waktu-waktu tertentu seperti kenaikan kelas, kelulusan dan sebagainya. Tentu sedekah ini bagian pula dari doa dan ngalap keberkahan dari semangat berbagi dan kedermawanan sebagaimana teladan sahabat Jabbir.

Ketiga, memintakan doa pada Kiai atau guru (Njalukno dongo marang kiai) agar ilmu yang kita warisi, kita serap dari para belau tersebut benar-benar mengalir dari ceruk keikhlasan, hati yang ridho dan dipenuhi berkah.

Keempat, tak kalah penting dari ketiga hal di muka adalah riyadloh. Penting baik bagi murid sendiri ataupun Wali muridnya untuk senantiasa dalam laku prihatin(tirakat) agar proses transfer keilmuan senantiasa lekat dengan suasana batin yang tawadhu’ dan menguatkan watak sikap spiritual. Dalam kaitan ini kita dapat menteladani almaghfurlah KH. Abdullah Faqih Langitan yang ikhlas mendapatkan bekal bulanan hanya limabelas ribu sebagaimana pernah beliau kisahkan sendiri dalam sebuah pengajian, sementara santri-santri lain perbulan normalnya dibekali sekitar seratus ribu. Dengan bekal tersebut Kyai Faqih muda tak pupus semangat demi selalu berharap ditarbiyah dan mendapatkan ilmu yang barokah. Maka tak heran jika di masa berikutnya beliau kemudian dikenal sebagai salah satu kyai khos yang alim dan wara’. Lahul fatihah.

* Selamat Hari Guru Nasional.

Share this post

Komentar

1 Reply to “Mbah Google dan Ilmu Yang Manfaat”

  1. Munfarihah says:

    sampai menetes air mata, luapan emosi nikmatnya mendapatkan ilmu….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top