Manusia dan Kebudayaan: Kontestasi Logika, Etika dan Estetika

(Catatan Kaki KKI 2018, bag. 2)

Oleh Al-Zastrouw

Ketiga aspek kebudayaan (logika, etika dan estetika) ini bisa dijadikan standar untuk melihat sejauh mana suatu tindakan maupun karya memiliki dimensi kebudayaan. Semakin logis, etis dan estetis suatu tindakan atau karya maka tindakan dan karya tersebut semakin berbudaya. Demikian sebaliknya, semakin meninggalkan logika, etika dan estika maka suatu tindakan dan karya akan semakin tidak berbudaya.

Misalnya jika ada sikap atau kebijakan politik yang tidak logis, tanpa etika dan nihil estetika maka politik tersebut berarti tidak berbudaya alias biadab. Jika ada sistem ekonomi yang mengabaikan logika, etika dan estetika artinya sistem tersebut tidak berbudaya. Demikian juga yang terjadi pada hukum, pendidikan dan aspek-aspek kehidupan lainnya.

Problem utama kebudayaan Indonesia saat ini adalah terjadinya kontestasi dan kompetisi ketiga aspek tersebut secara berlebihan. Masing-masing aspek ingin ditonjolkan dengan mengabaikan bahkan menegasikan satu sama lain. Padahal di atara ketiga aspek tersebut mestinya saling berintegrasi secara utuh dan padu. Kondisi inilah yang membuat kebudayaan Indonesia menjadi stagnan bahkan cenderung mengalami regresi (mundur).

Hal ini bisa dilihat pada sikap rasional yang mengabaikan etika (moral) dan estetika. Rasionalitas menjadi satu-satunya ukuran untuk melihat kehebatan seseorang dan kualitas suatu produk kebudayaan. Pilitik, hukum, ekonomi semua hanya diukur dengan standar rasional. Etika , norma dan estetika diabaikan. Sikap ini telah melahirkan orang-orang pandai, genius dan berotak brillian tapi tidak punya hati dan etika. Ketika logika (rasio) mengabaikan etika dan estetika maka sistem politik, hukum dan ekonomi menjadi tidak peka pada nilai-nilai kemanusiaan, hingga menimbulkan krisis kebudayaan.

Kondisi ini memunculkan gerakan etik yang terpisah dari logika dan estetika. Bahkan gerakan ini cenderung menyalahkan logika dan estika kemudian menganggapnya sebagai biang kerusakan dan kehancuran moral.

Baca juga 》  Membangun Jati Diri Melalui Revolusi Pendidikan

Karena mengabaikan dimensi logika dan estetika maka gerakan ini lebih terlihat tidak rasional. Di sisi lain gerakan etik moral ini juga terasa kering, kaku dan keras karena miskin sentuhan estetika. Inilah yang menyebabkan gerakan moral etik menjadi cenderung keras sehingga bisa membuat orang menjadi radikal dan ibtoleran.

Kontestasi etika yang mengabaikan dimensi logika dan estetika ini terlihat pada beberapa gerakan anti maksiat yang menggunakan cara-cara kekerasan. Penutupan warung di sianghari saat bulan ramadhan, mempersekusi pelaku oelanggaran moral hingga menista rasa kemanusiaan, seperti kasus mengarak sepasang muda mudi dengan pakaian minim karena tertangkap berbuat mesum.

Di sisi lain, penerapan etika tanpa logika dan estetika ini juga tercermin dalam berbagai produk hukum yang hanya mengacu pada teks-teks dan simbol agama yang mengabaikan tafsir dan konstruksi sosial lahirnya teks. Padahal ini penting dilakukan untuk bisa memahami substasi makna, kandungan dan tujuan dari teks dan simbol. Akibatnya gerakan moral menjadi tidak realistis, sulit diamalkan sehingga menjadi tidak menarik bahkan terkesan menakutkan. Apa yang terjadi menunjukkan, etika tanpa logika dan estetika hanya utopia, mengawang awang kerena tidak nyambung dengan realitas.

Ekspresi estetika tanpa logika dan etika tercermin dalam berbagai bentuk seni yang hanya mengedepankan aspek-aspek keindahan. Apapun bentuk seni asal mengandung unsur keindahan maka bisa diterima sekalipun tidak sesui dengan etika dan tidak bisa diterima akal sehat.

Dalam hal iini bisa dilihat seni yang mengeksplorasi keindahan tubuh yang telanjang. Demi estetika maka mengumbar bentuk tubuh secara telanjang, melakukan tindakan tidak senonoh di depan publik boleh dilakukan atas nama estetika. Hal yang sama juga terlihat pada film, drama dan sinetron, khususnya yang horor dan mistis. Model kesenian jenis ini hanya mengedepankan aspek estetik dengan menundukkan aspek logika dan etika.

Baca juga 》  Defisit Tradisi dan Budaya Nusantara (Bag.2)

Terjadinya kontestasi ketiga dimensi dalam kebudayaan telah menyebabkan terjadinya krisis kebudayaan di negeri ini.

Karena masing-masing dimensi: logika-etika-estetika, berjalan sendiri-sendiri dan cenderung saling sandra maka proses kreatif menjadi stagnan, tak ada inovasi hingga terjadi kevakuman budaya. Inilah problem dasar dari kebudayaan Indonesia saat ini (Bersambung).***

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top