Kemanusiaan Dan Kebudayaan

(Catatan Kaki KKI 2018 Bag. 1)

Oleh. AL-Zastrouw

Kebudayaan adalah sesuatu yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain. Hewan hidup, makan beranak dan punya otak tapi tidak berbudaya. Malaikat rajin dan tekun neribadah menjalankan perintah Tuhan tapi mereka tdk berbudaya, demikian juga jin, setan, iblis dan dhemit semua tidak berbudaya. Manusia akan tetap jadi manusia ketika masih berbudaya.

Minggu lalu telah diselenggarakan Konggres Kebudayaan Indonesia yang membahas Strategi Kebudayaan Indonesia dan hasilnya sudah diserahkan kepada Presiden. Tulisan berikut merupakan catatan kaki atas peristiwa penting tersebut.

Berbicara soal strategi kebudayaan sebenarnya adalah bicara soal strategi memamusiakan manusia agar tetap menjadi manusia. Hukum, politik, ekonomi tanpa kebudayaan akan menjadi alat mendegradasikan derajad manusia. Bahkan agama tanpa kebudayaan akan sulit diamalkan manusia sehingga menjadi tidak manusiawi

Hukum tanpa kebudayaan akan terjebak dalam hukum rimba, hanya menjadi alat legitimasi bagi yang kuat dengan membuang rasa keadilan. Politik tanpa kebudayaan hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan yang mengabaikan kemaslahatan ummat hingga bisa melindas harkat kemanusiaan. Ekonomi tanpa kebudayaan akan melahirkan keserakahan yang mengabaikan kemanusiaan.

Agama tanpa kebudayaan akan sulit diamalkan bahkan bisa mengancam eksistensi manusia. Terjebak dalam sektarianisme tektual yang keras, kaku dan kering seperti tercermin dalam sikap kaum radikal-fundamentalis yang tega menista sesama manusia yang dianggap kafir. Bahkan tega berbuat kekerasan dan tindakan biadab yang mengabaikan kemanusiaan. Agama yang mestinya melindungi manusia, menjadi jalan meraih kebahagiaan, mewujudkan ketentraman dan sumber inspirasi membangun peradaban justru berbalik menjadi ancaman terhadap kemanusiaan, penebar keresahan dan menjadi inspirasi merusak peradaban demi memperoleh surga. Pendeknya beragama tanpa kebudayaan membuat agama terceraikan dari kenyataan sehingga rawan penyelewengan dan distorsi karena mengabaikan dimensi kemanusiaan.

Baca juga 》  Hadrah, Seni Rebana di Indonesia

Dalam konteks Islam kebudayaan tercermin dalam akhlakul karimah dan dan amal sholeh. Akhlakul karimah (akhlak mulia) adalah memuliakan orang dan pihak lain dengan bersikap dan berkata baik. Akhlak mulia ini tidak hanya berlaku pada sesama manusia tetapi juga kepada makhluk lain terutama kepada Tuhan. Islam mengajarkan pemeluknya tidak bersikap semena-mena dan keji pada sesama manusia dan makhluk lain (alam, tumbuhan dan binatang) yang terlihat nista sekalipun.

Sedangkan amal shaleh adalah perbuatan yang membawa kebaikan dan kemaslahatan baik dihadapan Tuhan maupun sesama manusia sebagai cerminan dari iman kepada Allah.

Melalui konsep akhlakul karimah dan amal sholeh Islam menjadi agama yang berkebudayaan karena tetap bersentuhan dengan aspek kemanusiaan, menjaga harkat kemanusiaan dan sarat dengan nilai kemanusiaan. Di sini kebudayaan dipahami sebagai aktualisasi spirit ketuhanan dan keimanan dalam bentuk karya dan laku hidup manusia.

Kebudayaan agama adalah suatu upaya kreatif manusia untuk membuat agama menjadi manusiawi artinya bisa diamalkan dan dipahami manusia. Bukan semata-mata perangkat ajaran dan nilai ideal yang sulit dijalankan oleh manusia. Kebudayaan agama juga bisa dipahami berbagai bentuk produk laku hidup dan karya sebagai hasil kreatifitas manusia dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.

Secara konsepsional, kebudayaan merupakan pertautan tiga unsur: logika, etika dan estetika. Logika terkait dengan akal dan pikiran yang melahirkan konsep, teori, ilmu pengetahuan, tehnologi dan sejenisnya. Etika terkait dengan martabat kemanusiaan yang melahirkan moral, nilai dan norma. Estetika terkait dengan rasa dan keindahan yang melahirkan berbagai bentuk karya seni.

Dalam kebudayaan ketiga aspek ini bersifat komulatif, bukan alternatif. Artinya suatu konstruksi kebudayaan harus mengandung ketiga aspek tersebut meski dengan kadar yang berbeda. Jika salah satu aspek ditinggalkan maka tidak bisa disebut kebudayaan karena bisa mengancam eksistensi manusia dan mendegradasikan derajad manusia.

Baca juga 》  Tarikat, Universalisme Keilmuan dan Persaudaraan Sedunia

Mislanya kemajuan saint dan tehnologi sebagai produk aspek logika, jika tidak dibarengi dengan etika dan estetika maka akan mengancam kemanusiaan. Etika tanpa logika dan estetika akan menjadi kering dan kaku sehingga menciptakan manusia yang keras, ekslusif dan intoleran yang pada ujungnya mengancam kemanusiaan. Demikian juga estetika tanpa logika dan etika bisa melahirkan produk kesenian yang banal dan liar yang bisa menggerus nilai-nilai kemanusiaan.

Karena ketiga aspek yang menjadi unsur utama kebudayaan tersebut hanya ada pada manusia, inilah yang menyebabkan kebudayaan menjadi pembeda antara manusia dengan makluk lain.
(bersambung)

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top