Gugurnya Mitos Bambu Runcing

Oleh. K Ng H. Agus Sunyoto

Sejak usia sekolah dasar, para siswa dicekoki dengan kisah-kisah heroik Pertempuran Surabaya, 10 November 1945, yg mengedepankan kehebatan senjata Bambu Runcing dalam melawan balatentara lnggris.

Entah benar entah tidak benar, kisah kehebatan Bambu Runcing sebagai senjata, yang pasti siswa sekolah didoktrin untuk meyakini dalam rekaman pikirannya bahwa dengan Bambu Runcinglah bangsa lndonesia berhasil mengusir penjajah lnggris dan Belanda.

Sebagai anak yang lahir di Surabaya, kisah Bambu Runcing yang hebat itu pernah saya dengar di sekolah. Tapi cerita orang tua dan warga kampung yang ikut pertempuran dahsyat itu, sejak awal sudah menggugurkan kisah yang memitoskan Bambu Runcing tersebut. Semua pelaku yang ikut pertempuran 10 November hingga 1 Desember 1945, menuturkan pengalaman mengerikan tentang bagaimana arek-arek Surabaya dengan bedhil yang dipasangi bayonet, sten gun, bren gun, browning, granat, metrallieur menyerang tentara lnggris. Pemuda dan murid sekolah maupun santri di Surabaya sejak Maret 1942 sudah dilatih kemiliteran di Seinendan, Keibodan, Heiho, Jibakutai, tahun 1943 dilatih PETA, 1944 dilatih di Hisbullah. Bahkan pertengahan 1945 penduduk kampung Surabaya dilatih menembak oleh PETA dan Hisbullah.

Di tengah latihan dasar itu, digunakan Takiyari atau Bambu Runcing untuk senjata yg diperlakukan seolah senapan berbayonet. Saat pecah Perang Surabaya, hampir semua pejuang Surabaya membawa senjata modern, termasuk meriam, senapan anti pesawat, tekidanto, senapan mesin, dll, termasuk keris beracun, anak panah beracun, tulup beracun, bom minyak bakar.

Dengan menguatnya mitos Bambu Runcing sebagai senjata utama melawan bala tentara lnggris, kesan bahwa bangsa lndonesia primitif tidak bisa dielakkan. Bisa dibayangkan bagaimana anehnya tank, panzer, bren-carrier, meriam howitzer, senapan mesin, pesawat tempur, meriam kapal perang dilawan dengan Bambu Runcing.

Baca juga 》  Konsep Kepemimpinan Warisan Sejarah Nusantara

Ketika kisah kehebatan Bambu Runcing dihadapkan pada fakta sejarah dengan data otentik yang shahih, justru kita dapati realita sejarah yang jauh dari cerita-cerita yang dimitoskan selama ini. Gambaran arek Surabaya menusuk tentara lnggris yang bersenjata karaben dengan Bambu Runcing, pelan-pelan pudar dan menghilang.

Perang Surabaya 10 November 1945, dalam rekonstruksi sejarah emic, adalah perang besar berskala internasional pasca berakhirnya Perang Dunia II. Dikatakan perang besar skala internasional, sebab tidak saja menewaskan dua jenderal lnggris dan ribuan prajurit lnggris, melainkan hari demi hari bahkan jam demi jam Pertempuran Surabaya disiarkan oleh media massa internasional seperti New York Time, Washington Post, West Australia, lnternational Herald Tribune, TIME, kantor berita United Press, Reuter, dll, yang memberitakan bagaimana mengerikan Neraka Surabaya.

Pejuang-pejuang Surabaya tidak digambarkan bersenjata Bambu Runcing, sebaliknya selain menggunakan Karaben, sten gun, bren gun, senapan dengan bayonet, senapan mesin, meriam, granat, trek bom, gas racun, bahkan bom bunuh diri. Terselip berita yang “tersembunyi” tentang Pasukan Berani Mati dari kalangan santri, yang beritanya tersebar internasional bagaimana ulama memerintahkan fundamentalis muslim untuk melakukan bom bunuh diri, menabrak tank dan panzer lnggris dengan bom yang dibawanya.

Pertempuran Surabaya 10 Nobember 1945, ternyata lebih besar dan lebih mendunia skalanya, bahkan menunjuk peran vital para kyai dan santri yang selama ini ditutup-tutupi.

Sudah saatnya kita jujur dalam membaca sejarah bangsa. Temukan fakta-fakta sejarah dalam buku Fatwa & Resolusi Jihad yang saat ini telah diterbitkan untuk umum, setelah sebelumnya diterbitkan secara terbatas.

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top