Agama Nusantara yang Modern dan Kekinian

Oleh. Kalis Mardiasih

Menghayati kekayaan bahasa adalah satu cara merenungi khazanah peradaban. Maka, mari kita perhatikan kata-kata berikut ini: wa-tu (batu), tu-gu, tung-kub (bangunan suci), tu-lang, tu-nda (bangunan bertingkat), tu-nggul (panji-panji), tu-nggal (satu), tu-k (mata air), tu-ban (air terjun), tu-mbak (jenis lembing), tu-nggak (batang pohon), tu-lup (sumpit), tu-rumbukan (pohon beringin). Beragam diksi yang masih kita gunakan hingga hari ini, yang memuat unsur “tu” itu ternyata adalah warisan agama kapitayan yang hidup di Nusantara berabad-abad sebelum peradaban Hindu. Tu atau To adalah tunggal dalam zat, yang dalam istilah lain disebut Sanghyang.

Sanghyang memiliki unsur Sanghyang Wenang sebagai sumber segala kebaikan dan Sang Manikmaya sebagai penghancur. Dualisme konsep sifat Tuhan itu sejatinya juga kita temukan pada agama-agama lain, seperti dewa-dewa Hindu, juga sifat Asmaul Husna dalam Islam.

Dalam keyakinan kapitayan, seorang saleh akan mendapat keunggulan spiritual hingga ia mencapai gelar ra-tu atau dha-tu yang sudah dikaruniai tuah dan tulah, yakni kekuatan gaib yang bersifat positif dan negatif.

Sebetulnya masih banyak contoh lain, tapi keterangan Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2016) itu cukup membuat saya sadar bahwa purifikasi atau gerakan pemurnian apapun itu sesungguhnya sia-sia belaka. Peradaban yang menurut Yuval Noah Harari telah berjalan sejak 13,5 miliar tahun lalu (peristiwa Big Bang) ini selalu saling terhubung dan menyesuaikan periodisasi sejarahnya. Jadi, jika nekad ingin memberangus segala yang bid’ah hingga asing dan aseng, strategi budaya apa yang akan dipakai untuk menghilangkan jejak yang mengakar hingga pada tataran bahasa sehari-hari ini?

Cerita peralihan abad Hindu-Budha ke masa Islam selalu penuh spekulasi. Proses masuknya Islam ke Nusantara yang ditandai hadirnya pedagang-pedagang Arab dan Persia sejak abad ke-7 Masehi ternyata mengalami kendala sampai munculnya kejayaan Demak di Jawa dan Pasai di Sumatera pada abad ke-15. Mengapa selisih ratusan tahun itu terjadi?

Baca juga 》  Jam’iyah NU dan Sistem Sosial Masyarakat Kuno Nusantara

Babad Pararaton mengisahkan sejarah kejatuhan Majapahit. Kerajaan Hindu-Budha yang termasyhur mempersatukan wilayah-wilayah di Nusantara itu konon semakin menemukan kematiannya setelah kematian Hayam Wuruk pada 1389. Babad mendongengkan perihal perang saudara yang terjadi sebab Hayam Wuruk tak memiliki putra kandung. Kisah sejenis perebutan kekuasaan dan perang saudara yang menghancurkan elan vital kehidupan ini selalu muncul, identik pula dengan yang dialami Raja Airlangga ketika membagi kerajaan Kediri dan Jenggala hingga keduanya menemui kejatuhan.

Bernard HM Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia meyakini bahwa hampir tidak ada bukti ekspansi Muslim lewat peperangan ke Jawa bagian Timur pada periode itu. Narasi yang paling rasional dapat kita gambarkan begini: ketika kerajaan-kerajaan Hindu-Budha masih dapat memerintah dengan bijaksana dan membuat masyarakat sejahtera, maka nenek moyang kita pun tak butuh hadirnya keyakinan atau agama baru. Nah, barulah ketika penguasa pusat dari kerajaan Majapahit telah melemah sehingga raja-raja lokal bebas melakukan apa saja, dalam situasi kacau itu para pedagang Muslim datang menawarkan sebuah solusi untuk kondisi yang sedang koyak.

Ternate dan Tidore, pada masa raja Islam menjadi produsen cengkeh dan pala terbaik di dunia. Aceh, menerima Islam pada awal abad ke-16 karena para pedagang Muslim berhasil mengontrol wilayah-wilayah penghasil lada di pantai barat daya Sumatra, hingga kejayaan atas perdagangan itu sampailah pula ke Minangkabau. Jangan lupa bahwa pada periode itu, penjajah Portugis dan sebagian Eropa telah mendarat, lalu memonopoli perdagangan lewat cara-cara culas dan kekerasan, dan ketika itu nilai-nilai Islam pasti punya peran untuk membela hak rakyat dan melakukan perlawanan dibanding memilih menjadi sekutu.

Rangkaian cerita itu adalah secuplik kisah bahwa pada masa lalu, agama diterima bukan karena unsur-unsur tak rasional yang bersifat surgawi. Sebaliknya, agama diyakini karena ia dipercaya dapat menjadi bukan sekadar agama Tuhan, tapi juga agama manusia

Baca juga 》  Pahlawan HAM adalah Pelanggar HAM Terbesar

Selain itu, temuan kuburan-kuburan Muslim paling tua di Jawa dihiasi dengan simbol-simbol Shiwais serta prasasti bahasa Arab, pertanda bahwa Islam tidak menimbulkan pemutusan hubungan dengan masa lalu di Jawa. Teori paling kuat tentang dakwah Wali Songo, pertama, adalah strategi tasawuf. Dalam tradisi sastra Islam Nusantara, nampak bahwa penyebar Islam pada masa lalu tidak menekankan pada hal syariat (fikih) yang bersifat memaksa, namun menggunakan teks yang menghibur tapi sarat hikmah seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Bulan Terbelah, Hikayat Nur Muhammad, dan banyak lagi karya lain yang terpengaruh unsur Persia dan India itu.

Kedua, adalah seni dan tradisi yang mengakar dalam masyarakat. Wayang dan cerita-cerita dari Mahabharata serta Ramayana, awalnya adalah ekslusivisme sastra kerajaan yang berfungsi sebagai pelajaran kesatriaan di antara para bangsawan. Oleh Sunan Kalijaga, cerita-cerita, sajak dan lagu di dalamnya diganti dengan kisah dan nilai orang-orang biasa sehingga berterima dalam kehidupan sehari-hari, bahkan terus berkembang hingga hari ini.

Hari ini, zaman yang bergerak bersama teknologi membawa kita ke arah yang sesungguhnya makin keras. Tuntutan kebutuhan artifisial makin tinggi, sementara beban pekerjaan terus meningkat. Pembangunanisme menyulap lingkungan hidup untuk makin berwajah kota yang beridentitas sangat individualistik. Statistik melaporkan kehidupan rumah tangga alias institusi pernikahan perkotaan makin memburuk. Pendidikan anak menjadi tantangan besar yang belum juga terpecahkan.

Dalam buku Islam Tuhan Islam Manusia (2017) Haidar Bagir memberikan dua definisi pada judul yang ia pakai. Makna pertama dari Islam Tuhan Islam Manusia adalah bahwa tak akan ada seorang manusia pun kecuali Nabi yang dapat menangkap maksud Tuhan dengan sebaik-baiknya. Kesadaran ini seharusnya membuat kita memafhumi perbedaan tafsir kebenaran agama yang berbeda diantara banyaknya mufti dan mufassir yang ada. Dengan kata lain, memonopoli kebenaran alias memutlakkan pandangan tafsir sambil menyatakan tafsir orang lain salah adalah sebentuk kesombongan yang luar biasa.

Baca juga 》  Islam Nusantara: Strategi Melawan Globalisasi

Sedangkan makna kedua adalah bahwa agama memang diturunkan Tuhan bagi keperluan manusia. Gus Dur bilang, Tuhan tak perlu dibela sebab Ia telah maha segalanya. Nabi Muhammad pun merupakan Rasul yang diutus untuk membawa Islam yang menjadi sumber kasih sayang bagi alam semesta. Artinya, Islam, yang mengklaim diri shahih li kulli zaman wal makan mestinya relevan untuk menyelesaikan persoalan manusia dalam segala situasi tempat dan zaman sebab Tuhan sendiri sudah tidak butuh agama.

Negara Indonesia yang kaya sumber daya alam sekaligus plural manusia meliputi identitas etnis, suku, dan agamanya kini menjadi panglima bagi percontohan demokrasi di Asia, bahkan dunia. Kuncinya, ada pada penerimaan masing-masing pemeluk identitas dalam memaknai identitasnya. Masing-masing tak perlu merasa paling baik, juga sekaligus tak perlu merasa terancam. Sebab, sejarah membuktikan, mereka yang paling relevan untuk kemanusiaan pasti diikuti oleh zaman.

Jadi, bagaimana khotbah-khotbah di masjid atau rumah ibadah agama lain yang kita dengar hari ini? Jika masalah negara yang paling berat hari ini adalah budaya korupsi, kesenjangan sosial, pembangunan yang tidak mempertimbangkan unsur-unsur ekologis hingga pola pendidikan yang makin tidak humanistik, adakah agama menjawab masalah-masalah itu? Ataukah, tafsir yang dipakai masih sama dengan tafsir terhadap masalah umat seribu tahun yang lalu?

*Kolom ini sebelumnya pernah dimuat dalam Detiknews

*Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

Share this post

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top